Bapanas: Penyaluran 1,34 Juta Ton CBP Jaga Stabilitas Harga Beras

Ringkasan Berita
  • Penyaluran cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 1,34 juta ton berhasil menjaga stabilitas harga dan menekan inflasi beras nasional. Intervensi dilakukan melalui berbagai program seperti stabilisasi harga, bantuan pangan, dan penanganan bencana.
  • Stok beras nasional mencapai rekor tertinggi 5,1 juta ton, didukung perkiraan produksi 2026 mencapai 38 juta ton. Pemerintah membangun 100 gudang dengan anggaran Rp5 triliun untuk penyimpanan jangka panjang.
  • Inflasi beras Juni 2026 turun menjadi 3,98% (yoy) dari 4,55% di Mei. Inflasi bulanan hanya 0,45% dengan andil terhadap inflasi nasional sangat kecil (0,02%), jauh di bawah komoditas lain seperti bawang merah dan putih.
  • Program penyaluran CBP mencakup 627,55 ribu ton untuk stabilisasi harga, 662,86 ribu ton untuk bantuan pangan 33,14 juta keluarga, serta alokasi untuk ASN dan bencana alam. Hal ini menunjukkan penyaluran yang terarah dan berdampak luas.

BANGSAONLINE.com - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan penyaluran 1,34 juta ton cadangan beras pemerintah (CBP) berhasil menjaga stabilitas harga dan menekan inflasi beras nasional di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.

“Inflasi dan harga beras secara nasional masih terjaga, salah satunya ditopang oleh penyaluran stok CBP yang bersumber dari hasil serapan produksi beras dalam negeri,” kata Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, Kamis (2/7/2026).

Intervensi CBP dilakukan melalui Perum Bulog sepanjang Januari-Juni 2026, mencakup penjualan beras program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) sebanyak 627,55 ribu ton, bantuan pangan untuk 33,14 juta keluarga penerima manfaat sebesar 662,86 ribu ton, serta alokasi untuk ASN di wilayah tertentu 40,72 ribu ton dan bencana alam 11,37 ribu ton.

Amran menyebut stok beras nasional saat ini mencapai 5,1 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. FAO memperkirakan produksi beras Indonesia tahun 2026 bisa mencapai 38 juta ton, lebih tinggi dari capaian 34 juta ton pada 2025.

“Kalau ini terjadi, artinya surplus bisa mencapai 13 juta ton. Karena itu kita bangun 100 gudang dengan anggaran Rp5 triliun untuk menyimpan beras hingga 2–3 tahun,” ujarnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi beras Juni 2026 secara tahunan sebesar 3,98 persen, turun dari Mei 2026 yang 4,55 persen. Secara bulanan, inflasi beras tercatat 0,45 persen, masih di bawah 1 persen sehingga menunjukkan harga relatif terkendali.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut andil beras terhadap inflasi bulanan hanya 0,02 persen, jauh lebih rendah dibandingkan bawang merah (6,52 persen) dan bawang putih (6,88 persen). (rom)