Sulap Semak Belukar Jadi Lumbung Pangan, Aksi Urban Farming Jupri Kora Sabet Penghargaan

BANGKALAN, BANGSAONLINE.com - Hamparan ilalang dan rumput liar di lahan kosong kerap kali dipandang sebelah mata sebagai area telantar yang tidak bernilai. Namun, di mata Jupri Kora (63), setiap jengkal tanah adalah sumber kehidupan yang menyimpan potensi besar.

Baginya, selama vegetasi alami masih bisa tumbuh, tanah tersebut tidak pernah benar-benar mati.

"Di Bangkalan tidak ada tanah tidur. Tidak ada tanah tadah hujan. Buktinya, rumput saja bisa tumbuh. Artinya tanah itu subur, tinggal bagaimana manusia mengelolanya," ungkap Jupri saat dijumpai di area P2B Taman Laku, RW 09 Perum Halim 2, Kelurahan Tunjung, Kecamatan Burneh, Sabtu (4/7/2026).

Meski usianya tak lagi muda, mantan Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan ini memilih tidak berpangku tangan. Masa purnatugas justru ia jadikan momentum untuk mengabdi kepada masyarakat lewat gerakan pertanian perkotaan (urban farming).

Bagi Jupri, bercocok tanam bukan sekadar soal kalkulasi untung-rugi ekonomi atau memburu hasil panen. Ada kepuasan batin yang tak ternilai saat melihat lahan tidur berubah menjadi hamparan hijau yang produktif.

"Saya bukan hanya mencari hasil. Yang saya cari adalah kepuasan melihat sesuatu yang tadinya tidak berguna menjadi bermanfaat bagi banyak orang," jelasnya.

Sikap optimis itu mewujud dalam gerakan pekarangan pangan bergizi (P2B) yang digagasnya bersama warga setempat. Program ini menyasar lahan-lahan kosong milik warga yang bertahun-tahun telantar, dipenuhi semak belukar, bahkan kerap dijadikan tempat pembuangan sampah liar.

Salah satu petak tanah yang kini rimbun oleh pohon tomat dan cabai dulunya merupakan lokasi pembuangan sampah warga. Melalui proses pembersihan, pengolahan tanah yang tepat, serta perawatan berkala, lahan tersebut kini justru menghasilkan panen melimpah.

"Kalau ilalang bisa hidup, berarti tomat, cabai, terong, bahkan padi pun bisa tumbuh. Persoalannya bukan tanahnya, tetapi kemauan kita mengelolanya," tegas Jupri.

Langkah ini bermula saat warga memintanya untuk menjabat sebagai Ketua RW 09 Perum Halim 2, Burneh, Bangkalan. Walau awalnya sempat ragu, ia akhirnya menerima tanggung jawab tersebut dan menjadikannya sebagai instrumen untuk menggerakkan kepedulian warga terhadap ketahanan pangan lingkungan.

Kini, kawasan P2B Taman Laku sukses bertransformasi menjadi percontohan nyata dari hasil gotong royong. Di atas lahan berukuran 12 x 14 meter, warga menanam sekitar 250 pohon tomat serta mengoperasikan empat instalasi hidroponik berkapasitas 680 lubang tanam yang diisi sayuran pakcoy dan selada.

Di petak lain berukuran 9 x 14 meter, tumbuh subur 250 pohon cabai dan 100 pohon tomat. Tidak hanya itu, bantaran sungai yang dulunya terabaikan kini dimanfaatkan untuk menanam sekitar 400 pohon terong secara total di kedua sisinya, dilengkapi dengan enam kolam budidaya lele serta area tanaman obat keluarga (TOGA).

Jupri percaya bahwa kemandirian pangan idealnya dimulai dari pekarangan rumah sendiri. Jika setiap keluarga mau mengoptimalkan sedikit saja sisa lahan mereka, kebutuhan dapur sehari-hari dipastikan dapat terpenuhi secara mandiri.

Ia juga mengapresiasi dukungan penuh dari Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangkalan, CHK Karyadinata, yang rutin memberikan pendampingan teknis dan motivasi di lapangan.

"Beliau bukan hanya Kepala Dinas Pertanian, tetapi juga benar-benar memahami dunia pertanian. Dukungan seperti inilah yang membuat kami semakin semangat," tuturnya.

Ikhtiar kolektif yang dinahkodai Jupri tidak hanya berhasil menghadirkan kebun pangan komunal yang produktif, melainkan juga memanen apresiasi dari berbagai instansi.

Sejak awal dirintis, kawasan P2B Taman Laku langsung menunjukkan tajinya lewat berbagai pencapaian kelayakan pangan. Bahkan pada tahun pertama pengelolaannya, kawasan ini langsung dianugerahi penghargaan oleh Kapolres Bangkalan dalam momentum Hari Bhayangkara.

Konsistensi tersebut terbukti ampuh dengan keberhasilan mereka menyabet Juara I lomba P2B selama dua tahun berturut-turut, yakni pada peringatan Hari Bhayangkara 2025 dan Hari Bhayangkara 2026.

"Bagi kami, penghargaan ini bukan sekadar piala. Ini menjadi bukti bahwa lahan kosong yang dulu dipenuhi semak dan sampah dapat diubah menjadi sumber pangan yang bermanfaat bagi masyarakat. Semoga prestasi ini menjadi penyemangat bagi warga untuk terus merawat dan mengembangkan P2B," pungkas Jupri optimis. (uzi/rev)


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: