BANGSAONLINE.com - Marc Marquez tampaknya mulai melancarkan perang urat syaraf (mind games) untuk menekan para pesaingnya dalam perebutan gelar juara dunia MotoGP. Pembalap tim pabrikan Ducati ini secara mengejutkan mengklaim bahwa lawan tertangguh yang dihadapinya saat ini bukanlah pembalap lain, melainkan tubuhnya sendiri.
Seperti yang diketahui, pembalap asal Catalunya ini telah bertahun-tahun berjuang melewati badai cedera. Bahkan hingga kini, ia mengaku belum sepenuhnya pulih dari dampak kecelakaan hebat yang dialaminya di Sirkuit Mandalika, Indonesia, musim lalu.
Meski belum berada dalam kondisi 100 persen, magis Marquez belum pudar. Ia saat ini nangkring di peringkat kelima klasemen sementara, hanya terpaut 40 poin dari sang pemuncak, Jorge Martin. Berbekal rekor fantastis sembilan kemenangan di Sachsenring, Marquez pun kembali dijagokan untuk merajai Grand Prix Jerman akhir pekan ini.
Menjelang paruh musim dan jeda musim panas, Marquez sempat dilempari pertanyaan tentang siapa rival yang paling ia waspadai dalam perburuan takhta juara. Alih-alih menyebut nama Francesco Bagnaia atau Jorge Martin, Marquez dengan cerdik mengisyaratkan bahwa pembalap lain tak akan mampu menghentikannya jika fisiknya sudah kembali bugar sepenuhnya di paruh kedua musim.
"Rival terbesar saya—atau hal yang lebih saya khawatirkan—adalah kondisi fisik saya sendiri," ujar Marquez.
"Saya tidak mempedulikan hal lainnya. Memang benar mereka sangat cepat, tetapi lawan utama saya adalah diri saya sendiri—yakni bagaimana terus meningkatkan performa saya di balapan-balapan berikutnya."
Ketika didesak lebih jauh mengenai strateginya menghadapi persaingan ketat yang melibatkan banyak pembalap musim ini, juara dunia delapan kali tersebut kembali menegaskan bahwa fokus utamanya hanyalah bertarung melawan keterbatasan diri sendiri.
"Tentu saja, jika persaingan kejuaraan masih terbuka lebar, itu berarti tidak ada satu pun pembalap yang memiliki keunggulan mutlak," tuturnya.
Ia kemudian memberikan analisis menarik mengenai peta persaingan musim ini.
"Menurut pendapat saya, misalnya, Marco Bezzecchi adalah pembalap tercepat selama paruh pertama musim ini. Namun, ia bukan yang terbaik, karena Jorge Martin-lah yang memimpin klasemen kejuaraan. Jadi, pada akhirnya, Anda harus mengambil pendekatan yang berbeda saat bersaing melawan satu pembalap dibandingkan saat harus menghadapi empat pembalap sekaligus," urai Marquez.
Namun bagi Marquez, kalkulasi poin dan persaingan strategi antarpembalap itu adalah nomor dua untuk saat ini.
"Namun saat ini, pertarungan saya adalah hal yang berbeda. Setelah jeda musim panas, barulah saya akan memahami sejauh mana saya bisa melangkah [di akhir musim nanti]," pungkasnya optimistis.










