SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Sebuah perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu dimulai dari kemudahan. Banyak yang harus melewati jalan berliku, jatuh bangun, dan perjuangan tanpa henti sebelum akhirnya memetik buah manis dari kerja keras mereka.
Kisah hidup Muhammad Arifin menjadi bukti nyata bahwa kombinasi antara pendidikan, doa, dan ketekunan mampu mengubah garis takdir seseorang. Ia kini menjadi sosok inspiratif bagi siapa saja yang memiliki motivasi kuat untuk berhasil dan pantang menyerah pada keadaan.
Dahulu, Arifin harus merasakan kerasnya kehidupan di jalanan. Namun, keterbatasan ekonomi tersebut sama sekali tidak memadamkan api semangatnya untuk terus belajar dan memperbaiki masa depan.
"Alhamdulillah, gelar doktor ini bagian dari proses hidup saya. Semoga bisa membawa berkah dan manfaat bagi orang banyak," kata Arifin penuh syukur dalam keterangannya, Jumat (10/07/2026).
Karakter tangguh Arifin ditempa melalui dunia pesantren. Ia tercatat pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Nurul Khoir Surabaya dan juga memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Mojosari Nganjuk—salah satu pesantren tertua di Jawa Timur yang kaya akan tradisi keilmuan Islam.
Di lingkungan pesantren inilah, nilai-nilai kesederhanaan, kemandirian, kedisiplinan, serta kecintaan terhadap ilmu tertanam kuat dalam dirinya dan menjadi bekal berharga hingga hari ini.
"Keterbatasan ekonomi tidak boleh membuat kita patah semangat. Justru semangat kita harus berkali lipat dari mereka yang mapan secara ekonomi," tutur Arifin.
Kerja keras tersebut akhirnya mengantarkan Muhammad Arifin meraih gelar Doktor Ilmu Administrasi dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.
Gelar akademik tertinggi ini sukses ia renggut setelah mempertahankan penelitian disertasi ilmiahnya yang berjudul “Implementasi Kebijakan Digitalisasi Pengadaan Buku pada Satuan Pendidikan Dasar di Kota Surabaya.”
Dalam risetnya, Arifin mengkaji secara mendalam penerapan kebijakan digitalisasi pengadaan buku melalui SIPLah (Sistem Informasi Pengadaan Sekolah) dan ARKAS (Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah).
Kedua sistem tersebut dibedah untuk melihat sejauh mana perannya dalam memperkuat transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas pengelolaan dana pendidikan. Melalui penelitian ini, Arifin juga sukses mengembangkan Model Implementasi Digital–Administratif yang mengintegrasikan teknologi digital, kapasitas SDM, koordinasi kelembagaan, kepercayaan digital, hingga tata kelola data.
Pencapaian akademis ini melengkapi kiprah profesional yang berhasil ia bangun. Keluar dari lingkaran masa lalu yang sulit, Muhammad Arifin kini dikenal luas sebagai seorang pengusaha sukses di bidang perbukuan, dosen di perguruan tinggi swasta, dan dipercaya mengemban amanah sebagai Bendahara Umum PCNU Kota Surabaya.
Bagi Arifin, dunia perbukuan bukan hal yang asing. Pengalaman lapangannya sebagai pengusaha buku justru menjadi jembatan yang mempertemukan praktik nyata dengan kajian akademik, hingga melahirkan penelitian doktoral yang solutif.
"Buku bukan sekadar komoditas pendidikan, tetapi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk menggapai masa depan yang lebih baik," pungkasnya. (mdr/rev)










