Utang Luar Negeri Indonesia Nyaris Tembus Rp8 Ribu Triliun, Apakah Aman?

Ringkasan Berita
  • Utang luar negeri Indonesia mencapai US$444,4 miliar (sekitar Rp7.999 triliun) pada Mei 2026, tumbuh 2,1% (yoy), didorong oleh penerbitan SBN internasional pemerintah.
  • Utang pemerintah tumbuh 3,7% menjadi US$217,3 miliar, sementara utang swasta US$195,9 miliar masih kontraksi 0,1% namun menunjukkan perbaikan dari sebelumnya.
  • Rasio utang terhadap PDB berada pada 29,9% yang dianggap sehat, dengan komposisi utang jangka panjang mencapai 83,9% dari total utang luar negeri.
  • BI menilai struktur utang masih sehat dan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk mengelola utang secara hati-hati demi stabilitas ekonomi dan pembiayaan pembangunan berkelanjutan.

JAKARTA,BANGSAONLINE.com - Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$444,4 miliar atau sekitar Rp7.999 triliun pada Mei 2026. Nilai tersebut tumbuh 2,1 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Pertumbuhan tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang tercatat sebesar 2,0 persen. Kenaikan itu didorong meningkatnya utang luar negeri pemerintah seiring masuknya aliran dana dari penerbitan surat berharga negara (SBN) internasional.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan peningkatan ULN Indonesia terutama ditopang oleh pertumbuhan utang sektor publik, sementara kontraksi utang luar negeri swasta mulai melambat.

"Perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada SBN internasional," ujar Denny dalam keterangan resmi, Rabu (15/7/2026).

Bank Indonesia mencatat utang luar negeri pemerintah mencapai US$217,3 miliar pada Mei 2026 atau tumbuh 3,7 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan total utang luar negeri Indonesia.

Di sisi lain, utang luar negeri swasta tercatat sebesar US$195,9 miliar. Meski masih mengalami kontraksi sebesar 0,1 persen secara tahunan, penurunannya lebih rendah dibandingkan kontraksi 0,5 persen pada April 2026.

BI menyebut perbaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh melambatnya kontraksi utang luar negeri pada sektor lembaga keuangan.

Di tengah meningkatnya posisi utang, BI menilai struktur utang luar negeri Indonesia masih berada pada level yang sehat. Rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat sebesar 29,9 persen, dengan komposisi utang jangka panjang mencapai 83,9 persen dari total utang luar negeri.

Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam mengelola utang luar negeri secara hati-hati guna menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendukung pembiayaan pembangunan yang berkelanjutan.