JAKARTA, BANGSAONLINE.com — Keputusan Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 100 basis poin (bps) hingga ke level 5,75 persen terbukti ampuh mendongkrak aliran modal asing (inflow) ke pasar keuangan domestik sekaligus memperkuat cadangan devisa negara.
Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa kebijakan menaikkan BI Rate diambil untuk memagari stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya gejolak ekonomi global.
Dinamika global tersebut dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu lonjakan harga energi, serta ekspektasi percepatan kenaikan suku bunga acuan AS (Fed Funds Rate).
“Pada saat yang sama kita menghadapi tekanan di stabilitas kita yaitu khususnya untuk rupiah dan juga untuk inflasi yang trennya kemarin naik di volatile food. Sehingga ini yang menyebabkan kami harus memilih bahwa stabilitas ini menjadi prioritas kita. Dua bulan tersebut sehingga kita naikkan suku bunga,” ujar Destry dalam konferensi pers KSSK, Senin (3/8/2026).
Destry menyampaikan bahwa respons kebijakan pengetatan moneter tersebut sukses menarik minat investor asing untuk menempatkan dana pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sepanjang kuartal II 2026.
Total dana asing yang berhasil diserap pasar keuangan dalam negeri diperkirakan berkisar antara USD8,5 miliar hingga USD9 miliar, yang secara langsung memperkuat posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia.
“Dampaknya kita lihat yang pertama tentu inflow. Inflow masuk ke memang saat ini baru di SBN dan SRBI. Sehingga di kuartal II kenaikannya cukup signifikan. Sehingga totalnya sudah terjadi inflow sekitar USD8,5 sampai USD9 miliar. Jadi itu tentunya akan menambah cadev (cadangan devisa) kita,” jelasnya.
Tidak hanya mengamankan pasokan modal asing, kebijakan ini juga efektif meredam laju inflasi. Laju inflasi kelompok harga bergejolak (volatile food) berhasil ditekan ke angka 2,52 persen (year-on-year/yoy) pada Juli 2026, melandai signifikan dari bulan sebelumnya yang sempat menembus angka di atas 5 persen.
Sementara itu, inflasi inti tercatat tetap terjaga stabil di level 2,76 persen (yoy), dan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di angka 2,88 persen—turun dibandingkan bulan lalu yang berada di kisaran 3 persen.
“Jadi itu dampak kita bisa lihat stabilitas bisa terjaga sehingga kalau kita lihat juga pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir ini cukup terkendali,” ungkapnya.










