Harga Daging Sapi Terus Meroket, Pedagang di Lamongan Menjerit sampai Libur Jualan

Ringkasan Berita
  • Pedagang daging sapi di Kabupaten Lamongan menghentikan aktivitas jualan sebagai bentuk protes terhadap kenaikan harga yang terjadi untuk kelima kalinya pada tahun 2026, dengan harga daging sampil medium naik dari Rp110.000 menjadi Rp130.000 per kg.
  • Penghentian jualan selama tiga hari bertujuan untuk menenangkan kondisi psikologis pedagang di tengah keluhan konsumen atas harga yang terus naik dan melemahnya daya beli masyarakat.
  • Kenaikan harga bahan baku, termasuk daging sapi dan tepung, menempatkan pelaku usaha kuliner seperti penjual bakso pada posisi dilematis antara menaikkan harga jual dan kehilangan pelanggan atau mempertahankan harga dengan keuntungan yang tergerus.
  • Para pedagang dan pelaku usaha berharap harga sapi hidup kembali stabil agar pasokan dan harga daging di tingkat konsumen normal, serta pihak terkait memberikan perhatian atas fluktuasi harga yang mempengaruhi keberlangsungan usaha tradisional.

LAMONGAN,BANGSAONLINE.com - Sejumlah pedagang daging sapi di Kabupaten Lamongan menghentikan sementara aktivitas berjualan sebagai bentuk protes terhadap kenaikan harga daging sapi yang terus terjadi dan dinilai semakin membebani pedagang maupun konsumen.

Dampaknya, suasana di sejumlah pasar tradisional di Kecamatan Lamongan, seperti Pasar Sidoharjo, Pasar Ikan Lamongan, dan Pasar Made, tampak berbeda dari biasanya. Kios-kios pedagang daging sapi tutup tanpa aktivitas jual beli.

Salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Sidoharjo, Bagus Budi Raharjo, mengatakan keputusan meliburkan aktivitas jual beli diambil setelah para pedagang menerima informasi adanya kenaikan harga dari pedagang sapi hidup dan rumah pemotongan.

"Kami mendapat informasi dari pedagang sapi hidup dan sapi potongan bahwa akan ada kenaikan harga lagi. Ini merupakan kenaikan yang kelima sepanjang tahun 2026," ujarnya, Selasa (21/7/2026).