Ketua MPR Dorong Transformasi Pesantren Jadi Pilar SDM Unggul

Ringkasan Berita
  • Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan transformasi pesantren adalah keharusan untuk menjawab tantangan zaman, bukan lagi sekadar pilihan. Ia mendorong pesantren agar adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan digitalisasi.
  • Pesantren ditargetkan menjadi rujukan kemajuan SDM Indonesia dalam 5-10 tahun ke depan, dengan lulusan yang mampu menjadi solusi atas persoalan masyarakat, bukan hanya mengajar ngaji.
  • KH Imam Jazuli menekankan pesantren harus mencetak lebih banyak pemimpin bangsa, mengingat jumlah santri saat ini hanya 3–5% dari total pelajar nasional yang mencapai 53,9 juta.
  • Workshop ini merupakan bagian dari program membekali 5.000 pengasuh pesantren se-Indonesia, dengan materi motivasi, strategi praktis, hingga pendampingan implementasi selama 14 jam.
  • Pesantren Bina Insan Mulia disebut sebagai contoh keberhasilan transformasi, dengan santri yang meraih beasiswa di 16 negara dan masuk perguruan tinggi terbaik.

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, menegaskan transformasi pesantren bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjawab tantangan zaman. 

Hal tersebut disampaikannya saat membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-12 di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon.

Workshop yang digagas KH Imam Jazuli diikuti 308 pengasuh pesantren dari berbagai provinsi di Sumatera, bagian dari program membekali 5.000 pengasuh pesantren di seluruh Indonesia.

“Mudah-mudahan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, pesantren-pesantren akan menjadi rujukan bagi kemajuan sumber daya manusia Indonesia yang membanggakan,” kata Muzani melalui keterangan tertulis yang diterima pada Senin (27/7/2026).

Ia menekankan pesantren harus adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan digitalisasi. Muzani menambahkan lulusan pesantren harus mampu menjadi solusi atas persoalan masyarakat, bukan sebatas mengajar ngaji.

“Pondok pesantren juga harus menyesuaikan berbagai macam kemajuan, perubahan, inovasi, dan transformasi menjadi sebuah keharusan,” ujarnya.

Sementara itu, KH Imam Jazuli menegaskan pesantren harus mencetak pemimpin bangsa. Ia menyoroti jumlah peserta didik pesantren masih kecil, sekitar 3–5 persen dari total 53,9 juta pelajar nasional.

“Ke depan pesantren harus melahirkan banyak pemimpin yang dibutuhkan bangsa ini,” tuturnya.

Ia juga membagikan pengalaman Pesantren Bina Insan Mulia yang berhasil mengantarkan santri memperoleh beasiswa di 16 negara dan masuk perguruan tinggi terbaik. Ditekankan pula bahwa transformasi total sebagai solusi menghadapi tantangan bangsa.

“Takut istri itu tidak apa-apa bagi para kiai, tapi yang penting jangan sampai takut melakukan perubahan transformasi,” ucapnya disambut tawa peserta.

Workshop berlangsung selama 14 jam dengan materi motivasi, strategi praktis, hingga pendampingan implementasi. Kegiatan ditutup dengan pengijazahan Dalailul Khairat oleh KH Imam Jazuli dan ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati. (mdr/mar)