Ringkasan Berita
- KAI dan BRIN menjalin kemitraan untuk mengembangkan sistem Automatic Train Protection (ATP) guna meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api, dengan fokus utama mencegah kereta melewati sinyal berhenti dan mengawasi kecepatan.
- Kolaborasi ini menggunakan metode Proof of Product sebagai tahap awal, mencakup pengujian fungsi, integrasi, kinerja sistem, serta potensi risiko dan kesiapan regulasi sebelum penerapan penuh.
- Pengembangan ATP dijadwalkan bertahap hingga 2027, dimulai dari penyusunan konsep, uji lapangan, hingga evaluasi aspek keselamatan, dan dirancang agar sesuai dengan karakteristik operasional perkeretaapian Indonesia.
- Kerja sama ini didorong oleh pemerintah untuk meningkatkan daya saing industri melalui riset dan inovasi, dengan tujuan akhir membangun ekosistem inovasi perkeretaapian yang mandiri, adaptif, serta mendukung keandalan perjalanan jangka panjang.
BANGSAONLINE.com - KAI menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan teknologi perkeretaapian. Fokus utama kolaborasi ini adalah pengembangan sistem Automatic Train Protection (ATP) guna meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api.
Kerja sama ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman dalam kegiatan BRIN Goes to Industry 5. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menegaskan sinergi antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan dunia usaha menjadi kunci transformasi industri.
“Riset dan inovasi dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing sekaligus menghasilkan teknologi sesuai kebutuhan nasional,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, menekankan keselamatan sebagai prioritas utama.
“Keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap proses adopsi teknologi di KAI. Ini memberi ruang bagi kami untuk menguji berbagai alternatif teknologi berbasis riset sehingga memiliki landasan teknis, operasional, dan keselamatan yang kuat,” paparnya.
ATP dirancang untuk mencegah kereta melewati sinyal berhenti, mengawasi kecepatan perjalanan, serta memberikan informasi operasional kepada masinis.
Menurut I Gede, pengembangan sistem ini memerlukan kajian matang agar sesuai dengan karakteristik operasional perkeretaapian di Indonesia dan terintegrasi dengan prasarana maupun perangkat kereta.
KAI dan BRIN akan menggunakan metode Proof of Product sebagai tahap awal sebelum penerapan. Pengujian dilakukan untuk menilai fungsi, integrasi, kinerja sistem, serta potensi risiko dan kesiapan regulasi.
Pengembangan ATP dijadwalkan berlangsung bertahap hingga 2027, mulai dari penyusunan konsep, uji lapangan, hingga evaluasi aspek keselamatan. I Gede berharap kerja sama ini menghasilkan teknologi sesuai kebutuhan operasional nasional.
“Arah akhirnya adalah membangun ekosistem inovasi perkeretaapian Indonesia yang semakin mandiri, adaptif, dan mendukung keselamatan serta keandalan perjalanan jangka panjang,” ujarnya. (rom)










