Debut Solid di F1 2026, Audi Mulai Tunjukkan Taji di Kelompok Papan Tengah

BERLIN, BANGSAONLINE.com - Saat memamerkan proyek Formula 1 mereka di Berlin pada musim dingin lalu, Audi memancang target besar: merebut gelar juara dunia pada tahun 2030. Pabrikan otomotif raksasa asal Jerman ini memang langganan mengecap kejayaan di berbagai kancah balap dunia—mulai dari ajang ketahanan hingga Reli Dakar. Meski demikian, mereka sangat paham bahwa perjalanan menuju puncak F1 membutuhkan proses yang tidak instan.

Menutup paruh pertama musim sebelum jeda musim panas, Audi bertengger di posisi kedelapan klasemen konstruktor dengan raihan 12 poin. Pencapaian ini didulang setelah mereka sukses mengonversi potensi kecepatan mobil menjadi hasil konkret sepanjang bulan Juli.

Dibangun di atas fondasi eks tim Sauber di Swiss yang sebelumnya mengalami keterbatasan finansial, Audi juga mengambil tantangan masif dengan memproduksi power unit F1 perdana secara mandiri di fasilitas Neuburg.

Musim 2026 memang difokuskan sebagai periode peletakan batu pertama. Walau sempat melewati paceklik poin sejak seri pembuka di Melbourne hingga akhirnya finis kedelapan pada seri ke-10 di GP Inggris, performa keseluruhan jet darat Audi terus menunjukkan tren positif. Mereka bahkan mampu bersaing ketat di papan tengah pada sirkuit cepat yang menguras tenaga mesin seperti Silverstone dan Spa-Francorchamps—sebuah sinyal positif yang membakar motivasi tim.

Keputusan manajemen memadukan pembalap kaya pengalaman Nico Hulkenberg dengan talenta muda berbakat Gabriel Bortoleto juga terbukti membuahkan hasil manis.

Sebagai pendatang baru, performa mesin buatan Audi terbilang cukup kompetitif, meski jujur diakui belum setara dengan dominasi power unit milik Mercedes. Dampaknya, konsumsi daya baterai menjadi lebih boros. Tak hanya itu, Audi juga sempat berkutat dengan masalah start yang buruk sepanjang paruh pertama musim.

Dua pembalap mereka kerap dirugikan oleh masalah keandalan (reliability) teknis yang membuat mereka gagal memulai balapan pada beberapa kesempatan awal. Kejadian apes dialami Hulkenberg di Austria, saat sebutir kerikil secara tak sengaja menghantam dan mengaktifkan tombol pemutus arus (kill switch) pada mobilnya.

Menanggapi dinamika musim perdana ini, CEO proyek Audi F1, Mattia Binotto, menegaskan bahwa perkembangan tim masih berada dalam jalur yang benar.

"Kami berada di jalur yang tepat sesuai rencana yang telah kami tetapkan, dan segalanya berjalan sebagaimana mestinya. Jika Anda belum memiliki seluruh sumber daya manusia, peralatan, dan ruang kerja yang dibutuhkan, Anda tidak bisa mengharapkan hasil luar biasa dalam waktu singkat. Pada dasarnya, saat ini kami masih merupakan tim Sauber seperti tahun lalu, sembari membangun berbagai hal di atas fondasi tersebut. Mengubah kepemilikan, merek, atau corak mobil saja tidak cukup untuk tiba-tiba mendapatkan tambahan 300 personel, fasilitas baru, dan peralatan yang lebih canggih," papar Binotto.

Ia menekankan pentingnya menjaga ekspektasi dan kesabaran dalam membangun tim papan atas secara bertahap.

"Di satu sisi, ada ambisi yang sangat besar, namun di sisi lain, kita harus menerima kenyataan bahwa pertumbuhan membutuhkan waktu. Di sinilah kita perlu bersabar dan belajar mengelola rasa frustrasi. Terkait power unit, ini adalah proyek jangka panjang dan saya yakin Audi akan memiliki power unit kelas atas dalam beberapa musim ke depan. Namun, untuk urusan sasis, saya merasa sangat puas," pungkasnya.