Krisis Air Bersih Meluas di Ngawi, Komisi II DPRD Dorong Penambahan Tandon dan Reboisasi

Ringkasan Berita
  • Warga Ngawi mengalami krisis air bersih akibat kemarau dan bergantung pada distribusi air darurat dari BPBD, terutama di Desa Bangunrejo Lor dan Desa Cantel.
  • Komisi II DPRD Ngawi mengusulkan penambahan tandon atau tempat penampungan air di lokasi terdampak agar distribusi lebih efektif dan terorganisir.
  • Selain penanganan jangka pendek, DPRD mendorong masyarakat untuk melakukan reboisasi dan penghijauan guna meningkatkan cadangan air tanah di masa depan.
  • BPBD mencatat sedikitnya sembilan desa terdampak kekeringan dan melakukan dropping air bersih secara berkala sebagai penanganan darurat.
  • Penyelesaian masalah kekeringan diharapkan tidak hanya pada pembagian air, tetapi juga dengan penyediaan sarana penampungan yang memadai dan upaya konservasi lingkungan berkelanjutan.

NGAWI, BANGSAONLINE.com - Dampak musim kemarau kian dirasakan oleh warga di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Akibat susutnya sumber air, warga di sejumlah wilayah kini mengalami krisis air bersih dan harus bergantung pada pasokan air yang disalurkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama instansi terkait.

Guna memastikan penyaluran bantuan berjalan lancar, Komisi II DPRD Ngawi turun langsung memantau proses distribusi air bersih di titik-titik terdampak kekeringan, seperti di Desa Bangunrejo Lor dan Desa Cantel, Kecamatan Pitu.

Ketua Komisi II DPRD Ngawi, Amin Sunarto, menegaskan bahwa bantuan air dari BPBD saat ini menjadi tumpuan utama masyarakat setempat untuk mencukupi kebutuhan harian.

“Hasil pemantauan langsung saat proses distribusi dengan pihak BPBD, terutama di Desa Bangunrejo Lor dan Desa Cantel, saat ini warga yang terdampak hanya mengandalkan distribusi dari BPBD. Ini merupakan bentuk tanggung jawab bersama dalam penanganan warga yang terdampak kekeringan,” jelas Amin Sunarto.

Melihat tingginya jumlah warga yang membutuhkan bantuan, Amin menekankan pentingnya langkah taktis berupa penambahan tandon atau fasilitas penampungan air di lokasi-lokasi terdampak agar proses distribusi berjalan lebih efektif dan terorganisir.

“Kalau melihat kondisi langsung di lapangan, karena cukup banyak warga yang terdampak, maka perlu ada penambahan tandon maupun tempat penampungan air,” ujarnya.

Tak hanya penanganan jangka pendek, Amin juga mengajak masyarakat untuk aktif melakukan reboisasi dan penanaman pohon demi menjaga keberlanjutan sumber daya air di masa depan.

“Selain itu, warga juga perlu meningkatkan penanaman pohon dan penghijauan. Ini untuk membantu meningkatkan cadangan air tanah,” imbuhnya.

Berdasarkan catatan BPBD Kabupaten Ngawi, tercatat sedikitnya ada sembilan desa yang teridentifikasi mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Sebagai penanganan darurat, BPBD terus melakukan dropping air bersih secara berkala.

Pihak DPRD Ngawi pun berharap penanggulangan masalah kekeringan ini tidak berhenti pada pembagian air semata, tetapi juga diimbangi dengan penyediaan sarana penampungan yang memadai serta upaya konservasi lingkungan yang berkelanjutan.