Arsitek di Kota Batu Gagas Inovasi Rucana, Rumah Tumbuh untuk Korban Bencana

KOTA BATU,BANGSAONLINE.com - Inovasi Rumah Tumbuh Pascabencana (Rucana) yang diperuntukkan bagi korban gempa lahir dari gagasan arsitek asal Junrejo.

“Sebagai seorang arsitek, saya menyadari bahwa ilmu arsitektur tidak boleh hanya bersemayam di gedung-gedung bertingkat kota besar, melainkan harus hadir menolong masyarakat yang kehilangan tempat berteduh,” ujar Ar. Akhmad Fatah Yasin, IAI (Afys), arsitek sekaligus inisiator konsep Rucana Imajiner Arsitek, Rabu (19/8/2026).

Rucana mengusung filosofi Rumah Berkelanjutan yang Dapat Bertumbuh (incremental house) dengan konsep modular Flat-Pack System.

Menurut Afys, inovasi tersebut memiliki keunggulan karena cepat dan tangguh. Unit dasar dikemas secara ringkas berukuran 120 x 120 sentimeter sehingga mudah diangkut ke pelosok desa yang jalurnya rusak.

Pemasangannya hanya membutuhkan waktu beberapa jam tanpa alat berat. Sambungannya menggunakan joint tahan gempa dan konsep rumah panggung yang dirancang aman dari banjir.

Selain cepat dibangun, konsep Rucana juga dapat bertumbuh mengikuti kebutuhan penghuni. Jika luas awalnya 11,5 meter persegi, rumah tersebut dapat dimekarkan menjadi 23 meter persegi seiring bertambahnya kebutuhan keluarga dan pulihnya aktivitas ekonomi mereka.

Inovasi tersebut juga dirancang untuk memberdayakan warga. Ketika anggaran rekonstruksi dari pemerintah tersedia, kerangka Rucana tidak perlu dibongkar atau dibuang.

Warga cukup memperkuat dinding dengan semen, bata, atau kayu lokal. Konsep tersebut dinilai dapat menerapkan prinsip zero waste, menghemat biaya, sekaligus menjaga harkat hidup korban bencana.

Afys menjelaskan, gagasan Rucana tidak sekadar wacana akademis, tetapi dirancang sebagai solusi konkret untuk penanggulangan bencana di Indonesia.

Namun, gagasan tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pihak agar dapat direalisasikan.

“Kami menggugah para pemangku kebijakan di BNPB, BPBD, Kementerian PUPR, Pemerintah Daerah, serta lembaga zakat, badan amil, dan program CSR perusahaan untuk duduk bersama. Mari kita ubah paradigma penanganan bencana di Indonesia: dari yang sekadar ‘memberi tenda’, menjadi ‘menyediakan hunian tumbuh yang memuliakan manusia’. Jangan biarkan saudara-saudara kita di daerah bencana terus berjuang sendirian di bawah terpal yang lapuk. Mari wujudkan hunian tangguh bencana bersama Rucana,” terangnya.

Menurut Afys, setelah bencana terjadi, penderitaan warga justru kerap dimulai. Tenda terpal yang awalnya menjadi tempat bertahan hidup dapat berubah menjadi sangat panas pada siang hari dan tidak mampu melindungi penghuni dari udara dingin pada malam hari.

Korban bencana, mulai balita hingga lansia, bahkan dapat terpaksa bertahun-tahun bertahan di tempat penampungan yang jauh dari kata layak sambil menunggu pembangunan rumah permanen yang prosesnya kerap membutuhkan waktu lama.

Masalah utama, kata Afys, terletak pada kesenjangan antara fase tanggap darurat dan fase rekonstruksi. Tenda darurat terlalu cepat rusak, sementara pembangunan rumah permanen membutuhkan proses birokrasi dan konstruksi yang panjang.

Bantuan fisik yang diberikan pun sering kali menjadi mubazir karena tenda dibuang setelah rusak dan bangunan sementara dirobohkan ketika rumah permanen selesai dibangun.

Kondisi tersebut dinilai sebagai pemborosan anggaran sekaligus memperpanjang penderitaan masyarakat terdampak bencana. (asa/van)