Gus Ali Azhara Sebut Lilur Penghina Gus Kikin Bukan Gus dan Bukan Tokoh Muda NU

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Tokoh muda NU, Gus Ali Azhara, menegaskan bahwa Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy (Lilur) yang menghina Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sama sekali tak bisa mengaji bukanlah Gus.

“Lilur itu bukan gus, bukan lora. Tapi di mana-mana dia selalu pakai gus. Bisa jadi itu untuk kepentingan politik. Bahaya kalau itu dibiarkan,” ujar Gus Ali Azhara, pengurus IKA PMII (Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Jawa Timur.

Sebab, kata Gus Ali Azhara, kalau Gus, pasti santun dan menjaga adab

Ia mempertanyakan panggilan Gus Lilur dari mana.

“Di grup-grup ASPARAGUS tidak ada nama Lilur,” ujar Gus Ali Azhara yang mantan Ketua PMII dan BEM. 

ASPARAGUS adalah singkatan Aspirasi Para Gus, organisasi jaringan silaturahim informal para putra kiai atau kiai muda (Gus) dari lingkungan pesantren, khususnya dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

Ia juga mengaku tak tahu Lilur itu anaknya kiai siapa. “Kalau dia ngaku-ngaku kader muda NU, dia berproses diamana,” ujar Gus Ali Azhara yang merupakan keluarga besar dzuriah pesantren tertua, yaitu Pondok Pesantren Al Hamidiyah Siwalan Panji Sidoarjo Jawa Timur.

Sepengetahuan Ali Azhara, Lilur itu tidak pernah aktif di organisasi NU baik di Banom atau Lembaga seperti IPNU, PMII, Ansor atau NU.

Menurut dia, pernyataan Lilur bahwa Gus Kikin sama sekali tak bisa mengaji itu tidak benar. “Ngawur itu. Mungkin dia hanya mendapat laporan sepintas lalu dia ngomong,” ujarnya.

Menurut dia, Gus Kikin merupakan tokoh low profile.

“Gus Kikin itu sangat bersahaya. Kaya tapi tak pernah menunjukkan kalau kaya,” tambah pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuwangi itu.

Menurut Gus Ali Azhara, Gus Kikin juga sangat santun dan menghargai siapa saja.

“Bicaranya santun, tidak angkuh. Gus Kikin tak pernah menunjukkan, aku iki keturunan muassis (pendiri NU-Red),” tegasnya lagi.

Karena itu, menurut Gus Ali Azhara, Lilur tidak punya adab ketika menghina Gus Kikin sama sekali tak bisa mengaji.

“Biadabnya lagi Lilur pakai nama Gus. Dia mengatakan Gus Kikin tak bisa ngaji saja sudah tak punya adab, apalagi dia pakai (atas) nama Gus. Biadab,” ujar Gus Ali Azhara yang juga pendiri dan pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Baitut Ta'lim Tarik Sidoarjo.

Ketika disebut bahwa Lilur dekat dengan KH Said Aqil Siroj, Gus Ali Azhara menyatakan itu soal lain. Begitu juga ketika Lilur belum lama berselang memajang foto dirinya dengan Prof Dr Nazaruddin Umar di akun facebooknya.

“Itu biasa. Kayak anak-anak kecil belajaran organisasi,” ujarnya.

Hanya saja, menurut Gus Ali Azhara, jika Lilur itu tim sukses Kiai Said Aqil sebagai calon Rais Aam Syuriah PBNU dan Prof Dr Nazaruddin Umar sebagai calon ketua umum PBNU bisa saja itu sengaja untuk men-downgrade nama Gus Kikin.

“Kalau memang tim mereka berarti sengaja ia menyerang Gus Kikin untuk downgrade karena nama Gus Kikin sekarang sedang di atas angin sebagai calon ketua umum PBNU," ujar Gus Ali Azhara.

Menurut dia, jika Lilur menjadi bagian dari tim sukses para calon itu maka bisa diduga penghinaan dia terhadap Gus Kikin  ini tak lepas dari kepentingan pengelolaan tambang milik NU yang diberi pemerintah. Sebab Liliur memang dikenal sebagai pengelola tambang.

"Tampaknya tak jauh dari itu," ujar Gus Ali Azhari. 

Menurut dia, Lilur selama ini memang sering menjelek-jelekkan kiai. Bukan hanya Gus Kikin.

“Lilur membabi buta, nyeruduk sana-nyeruduk sini. Jangan-jangan dia disuruh orang untuk merusak nama baik kiai-kiai NU. Kalau itu benar, kasihan Lilur ini,” ujarnya.

 

Seperti diberitakan BANGSAONLINE, dalam Podcast LP3ES Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy menuduh Gus Kikin tak bisa mengaji. Ia juga menyebut Gus Kikin tak mumpuni sebagai ulama.

“Tapi yang paling menyakitkan kami para kader muda NU adalah beliau yang diusung tidak cukup mumpuni untuk disebut sebagai ulama. Dengan segala hormat saya pada Yai Abdul Hakim Mahfudz, Gus Kikin. Gus Kikin memang dzurriyah muassis NU. Tapi secara keilmuan, ilmu agama, mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Pesantren Tebuireng, Gus Kikin sama sekali tak bisa mengaji,” ujar Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy dalam podcast tersebut.

Pernyataan Lilur itu langsung dibantah oleh Dr H Mohammad Anang Firdaus, M.Pd.i, Wakil Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng. Ma’had Aly Hasyim Asy’ari adalah perguruan tinggi Islam di Pesantren Tebuireng yang fokus pada kajian Hadits. Ma’had Hasyim Asy’ari mewajibkan para mahasiswanya berbahasa Arab aktif dan piawai baca kitab dan Al-Quran.

Anang Firdaus, kiai muda yang fasih berbahasa Arab itu menuturkan bahwa Gus Kikin bisa mengaji. Dari mana Gus Kikin belajar mengaji?

Anang Firdaus menjelaskan bahwa Gus Kikin saat muda mengaji sorogan kepada abahnya sendiri, KH Mahfud Anwar.

Seperti diberitakan BANGSAONLINE, KH Mahfudz Anwar, ayahanda Gus Kikin, adalah pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang. Namun sebelum mendirikan Pesantren Sunan Ampel, Kiai Mahfudz Anwar pernah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak yang letaknya sekitar 350 meter dari Pesantren Tebuireng.

Gus Kikin juga merupakan cicit Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng yang dikenal luas sebagai pendiri Jam’iyah Diniyah Ijtima’iyah Nahdlatul Ulama (NU).

“Gus Kikin ngaji sorogan Muslim kepada abahnya, KH Mahfudz Anwar,” ujar Ustadz Anang Firdaus kepada BANGSAONLINE, Kamis (20/8/2026).

Kitab Shahih Muslim adalah kitab koleksi Hadits yang disusun oleh Muslim bin al-Hajjaj. Beliau murid Imam Bukhari, penyusun hadits-hadits nomor wahid. Di kalangan muslim Sunni Kitab Shahih Muslim dianggap sebagi koleksi hadits terbaik kedua setelah Shahih Bukhari.

Sedangkan sorogan adalah metode belajar tradisional di pesantren. Teknisnya si santri membaca kitab sendiri dengan disimak kiai atau guru. Jadi dalam sistem sorogan seorang santri aktif membaca di depan kiai atau guru.

Ini kebalikan sistem bandongan, yakni sang kiai membacakan kitab, sedangkan para santrinya menyimak atau mendengarkan.

Menurut Anang, Gus Kikin ngaji Kitab Shahih Muslim itu selama empat tahun kepada Kiai Mahfudz Anwar.

"Kalau sekarang ngaji kilatan Bukhari Muslim itu kan satu bulan di Tebuireng. Gus Kikin ngaji sampai empat tahun," ujar Anang yang aktif sebagai dosen di Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Tebuireng.

Sekedar informasi, Pesantren Tebuireng setiap bulan suci Ramadan menggelar ngaji Kitab Bukhari Muslim. Pengajian legendaris ini merupakan warisan atau tradisi intelektual dari Hadratussyaikh.

Dulu Hadratussyaikh selalu mengaji Kitab Bukhari Muslim tiap Ramadan. Banyak sekali ulama atau kiai yang mengikuti pengajian Hadratussyaikh itu dari berbagai pesantren penjuru nusantara. Konon, termasuk ulama-ulama yang merupakan guru Hadratussyaikh sendiri. Hadratussyaikh memang dikenal sebagai ulama ahli hadits, disamping ilmu-ilmu lainnya.

Tradisi ngaji Bukhari Muslim tiap Ramadan itu berlanjut hingga sekarang di Pesantren Tebuireng. Banyak kiai atau santri yang ingin menyambung sanad keilmuan tentang hadits mengikuti pengajian yang dimulai satu bulan sebelum Ramadan itu.

Menurut Anang, Gus Kikin sampai sekarang masih aktif mengkaji Kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim. Yaitu kitab karangan Hadratussyaikh.

Gus Kikin memang intensif mengkaji karya-karya Hadratussyaikh. Termasuk Qanun Asasi.

"Karena Hadratussyaikh mengutamakan persatuan, semua dirangkul," kata Gus Kikin kepada BANGSAONLINE sembari mengatakan bahwa ia akan meneladani Hadratussyaikh.