Penerima Risywah itu Fasiq, Bahkan Bisa Murtad, Ini Alasannya

SURABAYA, BANGSAONLINE.com- Isu risywah atau money politics (uang sogok) bertiup kencang menjelang Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahru Ulum Tambak Barar Jombang pada 27 hingga 31 Agustus 2026. Banyak sekali kiai prihatin. Diantaranya Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah.

Ia menegaskan bahwa siapapun yang menerima risywah adalah fasiq.

“Kalau menerima risywah ya fasiq,” ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, saat memimpin shalat malam dalam acara Doa untuk Muktamar ke-35 NU di Aula Jaringan Santri Kiai Nasional (JKSN) Pondok Pesantren Amanatul Ummah Jalan Siwalankerto Utara Surabaya, Sabtu (22/8/2026) malam.

Fasiq adalah orang yang keluar dari ketaatan terhadap Allah SWT dan rasul-Nya, dan ia suka melakukan perbuatan dosa besar atau terus menerus melakukan dosa kecil.

Dalam acara Doa untuk Muktamar NU itu sempat hadir Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Juga hadir Syaikh Ahmad Muhammad Mabruk dari Mesir serta para kiai dari beberapa daerah seperti Madura, Surabaya, Mojokerto dan Sidoarjo.

Menurut Kiai Asep, risywah tetap risywah. Tak bisa dibungkus dengan eufimisme uang transport atau istilah lain.

“Jadi hukumnya tetap haram. Kalau kita menghalalkan barang haram kita murtad, karena mengingkari atau tidak percaya pada ajaran Allah,” tegas putra KH Abdul Chalim, salah seorang ulama pendiri NU yang pada 2023 ditetapkan sebagai pahlawan nasional presiden.

Lalu bagaimana seharusnya menghadapi serbuan risywah yang menyasar PCNU-PCNU dan PWNU. Menurut Kiai Asep, harus ditolak.

“Atau terima uangnya tapi jangan memilih calon sesuai permintaan penyuap itu. Pilihlah sesuai hati nuraninya,” ujar Kiai Asep.

Loh, kan berkhianat? “Berkhianat pada orang berkhianat itu shadaqah. Ini sama dengan at-takabburu alal mutakabbir shodaqotun. Takabbbur terhadap orang takabbur adalah shodaqah,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nadhlatul Ulama (Pergunu) itu.

“Kata Kiai Imad, kalau uangnya diambil tapi tidak mencoblos calon sesuai permintaan orang yang menyuap justeru menyelamatkan NU. Almu’awanah alal birri wattakwa, apalagi kalau uang itu dibagikan kepada romli di muktamar,” ujar Kiai Asep sembari tertawa.

Seperti diberitakan, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-DIY secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap tegas menolak segala bentuk risywah atau politik uang menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Sikap ini disepakati dalam rapat koordinasi di Kantor PWNU DIY pada Senin, 17 Agustus 2026.