Dampak Kekeringan Meluas, 11 Dusun di Ngawi Andalkan Dropping Air Bersih

Ringkasan Berita
  • Musim kemarau berdampak serius pada ketersediaan air bersih di Ngawi, Jawa Timur, dengan ratusan keluarga mengandalkan pasokan dropping air dari pemerintah.
  • Sebanyak 11 dusun terdampak krisis, mencakup 631 kepala keluarga atau sekitar 1.627 jiwa, termasuk Dusun Jati Suwak dan Gagan yang sumurnya mengering.
  • Pemkab Ngawi melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan per dusun dan kajian geolistrik untuk mencari titik air tanah guna pembangunan SPAM jangka panjang.
  • Untuk jangka pendek, pemerintah memprioritaskan dropping air tangki ke daerah terdampak guna memenuhi kebutuhan dasar warga selama tiga hari per distribusi.
  • Pemerintah berharap kombinasi bantuan darurat dan pembangunan infrastruktur SPAM dapat mengurangi ketergantungan warga pada dropping air setiap musim kemarau.

NGAWI, BANGSAONLINE.com - Musim kemarau yang terus berlangsung mulai berdampak serius terhadap ketersediaan air bersih di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Ratusan kepala keluarga kini terpaksa mengandalkan pasokan distribusi air bersih (dropping) dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi melalui BPBD dan instansi terkait untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi krisis air bersih salah satunya dirasakan oleh warga Dusun Jati Suwak di Desa Suruh, serta Dusun Gagan di Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin. Mengeringnya sumur dan sumber air utama memaksa warga mencari pasokan hingga ke desa tetangga.

Salah seorang warga Dusun Gagan, Sucipto, mengungkapkan bahwa puncak krisis air bersih rutin terjadi sejak pertengahan tahun.

“Mulai bulan Juli sampai September biasanya puncaknya. Sumber air mulai mengering, jadi warga harus mencari sampai desa lain. Kalau ada dropping dari pemerintah, biasanya bisa mencukupi kebutuhan sekitar tiga hari,” tutur Sucipto.

Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko menyatakan bahwa pemerintah daerah tengah memperketat pemetaan wilayah rawan kekeringan berbasis dusun. Data terkini mencatat ada 11 dusun yang terdampak, mencakup 631 kepala keluarga (KK) atau sekitar 1.627 jiwa.

“Saat ini pemetaan wilayah terdampak kekeringan kita lakukan berbasis dusun. Data terakhir ada 11 dusun yang terdampak, dengan 631 KK atau 1.627 jiwa,” jelas Dwi Rianto Jatmiko.

Wabup mengakui beberapa kawasan—seperti Dusun Gagan—memiliki tantangan geografis yang cukup rumit, sehingga sulit menentukan titik sumber air tanah permanen. Untuk itu, Pemkab Ngawi melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) menerjunkan tim guna melakukan kajian geolistrik.

Jika kajian geolistrik berhasil menemukan titik debit air yang memadai, Pemkab Ngawi bakal menindaklanjutinya dengan pembangunan fasilitas Pamsimas atau sistem penyediaan air minum (SPAM). Namun, untuk jangka pendek, pasokan dropping air tangki tetap diprioritaskan.

“Untuk saat ini upaya yang dilakukan pemerintah dalam mencukupi kebutuhan air bersih adalah dengan melakukan dropping air ke daerah-daerah terdampak. Ke depan, intervensi melalui pembangunan instalasi air bersih juga akan dilakukan,” tegas wabup.

Melalui kombinasi bantuan darurat dan pembangunan infrastruktur SPAM jangka panjang, Pemkab Ngawi berharap warga di wilayah rawan kekeringan tidak lagi terus bergantung pada dropping air saban musim kemarau tiba.