Seminar Nasional, Wamensos RI Dorong Unirow Jadi Kampus Pemutus Rantai Kemiskinan

Ringkasan Berita
  • Wakil Menteri Sosial Agus Jabo mendorong Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban agar perguruan tinggi tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi menggunakan ilmu pengetahuan sebagai alat perubahan sosial untuk memutus rantai kemiskinan secara nyata.
  • Seminar mengangkat tema peran strategis pendidikan tinggi dalam membangun generasi tangguh menuju Indonesia Emas 2045, dengan fokus pada penguatan riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat untuk menjawab peluang dan tantangan bonus demografi.
  • Wamensos menyoroti faktor struktural kemiskinan, di mana sekitar 64% anak dari keluarga miskin berpotensi mewarisi kemiskinan, dan anak dari orang tua berpendidikan rendah cenderung memiliki tingkat pendidikan yang sama.
  • Seminar diikuti 192 makalah dari 17 perguruan tinggi di 9 provinsi, membahas topik multidisiplin seperti pendidikan, ekonomi, sosial humaniora, kemaritiman, pertanian, kesehatan, dan pengabdian masyarakat.
  • Orator ilmiah membahas peran kampus dalam memutus kemiskinan, transformasi manajemen pembelajaran SD berbasis ICT, serta pendekatan partisipatif untuk konversi sampah tangguh iklim.

TUBAN, BANGSAONLINE.com - Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban menggelar Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNasPPM) ke-11 tahun 2026 di kampus setempat, Kamis (27/8/2026). Seminar nasional ini menghadirkan Wakil Menteri Sosial (Wamensos) RI, Agus Jabo, secara daring sebagai Keynote Speaker.

Dalam paparannya, Wamensos Agus Jabo mendorong Unirow Tuban untuk mengambil peran strategis dalam memutus rantai kemiskinan di Indonesia. Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh hanya berfokus pada capaian akademis, jumlah kelulusan, atau publikasi ilmiah semata, melainkan harus mampu menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat perubahan sosial yang berdampak nyata.

"Jangan tanya berapa mahasiswa yang diwisuda, tetapi tanyalah berapa banyak ilmu pengetahuan yang berkontribusi bagi masyarakat," tegas Agus Jabo.

Ia menyoroti bahwa persoalan kemiskinan di Indonesia turut dipicu oleh faktor struktural, di mana anak dari keluarga berpendidikan rendah berpotensi mengalami keterbatasan yang sama.

"Hampir 64 persen anak dari orang tua yang berada dalam garis kemiskinan berpotensi mewarisi kemiskinan struktural. Sementara anak dari orang tua berpendidikan rendah cenderung memiliki tingkat pendidikan yang sama," beber Wamensos.

Menyikapi hal tersebut, Rektor Unirow Prof. Warli, M.Pd., menyatakan kesiapan kampusnya untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional melalui penguatan riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat. Prof. Warli juga menyinggung peluang serta tantangan bonus demografi menjelang Indonesia Emas 2045.

"Ini akan menjadi berkah apabila generasi muda mendapatkan pendidikan yang berkualitas, berkarakter, dan memiliki daya saing tinggi. Namun, ia akan berubah menjadi beban jika generasi muda tidak memiliki potensi serta kesiapan dalam menyikapi dinamika perubahan dan perkembangan global yang semakin kompleks," terang Prof. Warli.

Poin Penting Pelaksanaan SNasPPM XI Unirow:

Tema Utama: "Peran strategis pendidikan tinggi untuk membangun generasi tangguh menuju Indonesia Emas 2045".

Partisipasi: Diikuti 192 makalah dari 17 Perguruan Tinggi yang tersebar di 9 Provinsi.

Topik Pembahasan: Meliputi bidang Pendidikan, Sains, Ekonomi dan Bisnis, Sosial Humaniora Seni Budaya, Kemaritiman, Pertanian dan Pangan, Kesehatan dan Obat, serta Pengabdian Masyarakat.

Orator Ilmiah: Prof. Amin Setyoleksono, Ph.D. (peran perguruan tinggi memutus kemiskinan), Dr. Dumiyati, M.Pd. (transformasi manajemen pembelajaran SD berbasis ICT), dan Hesti Kurniahu, M.Si. (pendekatan partisipatif konversi sampah tangguh iklim).