Ringkasan Berita
- Kecamatan Srengat meluncurkan tiga inovasi layanan publik: Posyandu Jiwa Panji Asmoro untuk kesehatan mental, Si Kecil G'mas untuk pemberdayaan UMKM, dan Setara sebagai kanal aspirasi warga.
- Inovasi ini bertujuan mendekatkan layanan pemerintah ke masyarakat dengan menyasar tiga aspek utama: kesehatan jiwa, penguatan ekonomi mikro, dan penyerapan aspirasi secara responsif.
- Setiap program mengedepankan pendekatan kolaboratif, melibatkan desa/kelurahan, tenaga kesehatan, kader, pelaku usaha, dan masyarakat untuk keberlanjutan.
- Tujuan akhirnya adalah mewujudkan masyarakat Srengat yang sehat, mandiri ekonomi, dan responsif melalui pelayanan yang langsung menjawab kebutuhan warga.
BLITAR, BANGSAONLINE.com – Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, mengembangkan tiga inovasi, di antaranya Posyandu Jiwa Panji Asmoro, Si Kecil G’mas atau Usaha Mikro Kecil dan Menengah Masuk Kelas, dan Setara (Srengat Tanggap Rasa: Sinergi Responsif, Empati, dan Gotong Royong Aspirasi Masyarakat Srengat).
Camat Srengat, Marhaen Pudji Rahardja, mengatakan ketiga inovasi tersebut untuk menyasar sektor kesehatan masyarakat, pemberdayaan ekonomi, dan penyerapan aspirasi warga sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Menurutnya, ketiga inovasi tersebut memiliki sasaran yang berbeda, namun berada dalam satu semangat yang sama, yakni menghadirkan pelayanan pemerintah yang lebih dekat dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Intinya, bagaimana pelayanan pemerintah ini bisa semakin dekat dengan masyarakat. Kami mencoba menghadirkan inovasi yang memang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, maupun penyampaian aspirasi,” ujar Marhaendra, Jumat (28/8/2026).
Untuk Posyandu Jiwa Panji Asmoro, lanjut Marhaen, inovasi ini menjadi bentuk kepedulian Kecamatan Srengat terhadap kesehatan jiwa masyarakat.
Melalui Panji Asmoro, pemerintah kecamatan bersinergi dengan pemerintah desa dan kelurahan, tenaga kesehatan, kader, keluarga, serta masyarakat untuk meningkatkan perhatian dan pendampingan terhadap warga yang membutuhkan dukungan kesehatan jiwa.
Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berupa pelayanan, tetapi juga edukasi dan pemberdayaan. Dengan demikian, kepedulian terhadap kesehatan jiwa diharapkan dapat tumbuh mulai dari lingkungan keluarga hingga masyarakat.
“Panji Asmoro ini menjadi bagian dari upaya kami agar masyarakat yang membutuhkan perhatian dalam hal kesehatan jiwa tidak merasa sendiri. Lingkungan keluarga dan masyarakat juga harus ikut memberikan dukungan,” jelasnya.
Sedangkan untuk Si Kecil G’mas, inovasi ini ditujukan untuk membantu pelaku UMKM meningkatkan kemampuan dalam mengelola dan mengembangkan usaha.
Sejumlah persoalan seperti manajemen usaha, pemasaran, pemanfaatan teknologi digital hingga akses pasar menjadi perhatian dalam program tersebut.
Melalui pelatihan dan pendampingan, para pelaku UMKM diberikan ruang untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperluas jejaring. Kecamatan Srengat juga mendorong terbentuknya komunitas atau paguyuban UMKM sebagai wadah berbagi informasi, pengalaman, promosi, serta membangun kerja sama antarpelaku usaha.
“UMKM ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat. Karena itu, kami ingin pelaku UMKM tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga berkembang dan naik kelas,” kata Marhaendra.
Sedangkan untuk inovasi terakhir, yakni Setara, inovasi ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, keluhan, kebutuhan maupun gagasan kepada pemerintah.
Marhaendra menyebut, Setara mengedepankan prinsip responsif, empati, dan gotong royong. Setiap persoalan yang disampaikan masyarakat diupayakan mendapatkan respons dan tindak lanjut melalui koordinasi dengan pihak-pihak terkait.
Marhaendra menegaskan, pemerintah kecamatan tidak ingin pelayanan publik hanya sebatas urusan administrasi. Pemerintah juga harus hadir untuk mendengarkan dan memahami persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Melalui Setara, kami ingin membangun komunikasi yang lebih terbuka. Masyarakat punya ruang untuk menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan maupun persoalannya, kemudian pemerintah bersama pihak terkait berupaya mencari solusi,” tuturnya.
Marhaendra berharap ketiga inovasi tersebut dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak.
Menurutnya, keberhasilan inovasi pelayanan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi dengan masyarakat, pemdes, kelurahan, dunia usaha, tenaga kesehatan, kader, serta pemangku kepentingan lainnya.
“Kami berharap tiga inovasi ini bisa terus berjalan dan berkembang. Semangatnya adalah bagaimana Kecamatan Srengat bisa mewujudkan masyarakat yang sehat, mandiri secara ekonomi, dan responsif dalam membangun lingkungannya,” pungkasnya.
Dengan hadirnya Panji Asmoro, Si Kecil G’mas dan Setara, Kecamatan Srengat berupaya membangun pelayanan publik yang tidak hanya cepat dan responsif, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung serta memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan warga. (ina/msn)










