Ludes 5.000 Botol dalam 3 Hari, Stand Biosaka di Muktamar NU ke-35 Diserbu Pengunjung

Ringkasan Berita
  • [
  • "Biosaka, cairan fermentasi dari air dan rumput yang dikembangkan sekitar 10 tahun, mendapatkan animo tinggi dengan lebih dari 5.000 botol ludes dibawa pengunjung dalam 3 hari pameran di Muktamar NU ke-35.",
  • "Cairan ini dipromosikan sebagai solusi pertanian berkelanjutan yang dapat menyuburkan tanah, mendorong pertumbuhan tanaman, serta mengusir hama seperti tikus tanpa membunuhnya untuk menjaga keseimbangan alam.",
  • "Aplikasi Biosaka meluas ke peternakan untuk ketahanan dan pertumbuhan hewan, perikanan untuk kualitas air, serta pemulihan lingkungan untuk menetralkan racun dan residu kimia di tanah dan air.",
  • "Momentum muktamar digunakan untuk memperluas gagasan Biosaka yang berfokus pada ekosistem selaras alam, dengan harapan dapat diadopsi lebih luas untuk kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan."

JOMBANG, BANGSAONLINE.com - Stand 57–58 Pameran Biosaka dalam rangkaian Muktamar NU ke-35 di Jombang diserbu pengunjung. Selama tiga hari pelaksanaan pameran, yakni 27–29 Agustus 2026, lebih dari 5.000 botol cairan Biosaka ludes dibawa pulang oleh masyarakat yang hadir.

Perintis Biosaka, Muhammad Anshar, asal Blitar, mengungkapkan bahwa tingginya animo pengunjung mencerminkan besarnya ketertarikan publik terhadap inovasi Biosaka yang telah dikembangkan selama kurang lebih satu dekade tersebut.

“Selama pameran mulai tanggal 27 sampai 29 Agustus, sudah lebih dari 5.000 botol cairan Biosaka yang diambil pengunjung,” ujar Anshar saat ditemui wartawan bangsaonline.com.

Menurut Anshar, Biosaka merupakan cairan hasil fermentasi air dan rumput yang diperkenalkan sebagai salah satu solusi alternatif untuk mendukung keberlanjutan sektor pertanian.

Ia menjelaskan, penggunaan Biosaka kini telah mencakup berbagai ranah penunjang, mulai dari pertanian, perikanan, peternakan, perbaikan lingkungan, hingga kesehatan. Di sektor pertanian, Biosaka diproyeksikan mampu mendongkrak kesuburan tanah dan memicu pertumbuhan tanaman.

Menariknya, penggunaan Biosaka di lahan pertanian juga diklaim sanggup membuat hama tikus menjauh tanpa perlu membunuhnya.

“Konsepnya bukan untuk meracuni atau membunuh, tetapi bagaimana menjaga keseimbangan alam sehingga tanaman, hewan, dan lingkungan tetap lestari,” jelasnya.

Pada bidang peternakan, pemanfaatan Biosaka diharapkan dapat memelihara daya tahan tubuh ternak, memicu nafsu makan, serta mempercepat pertumbuhan hewan.

Sementara di ranah perikanan, cairan ini difungsikan untuk menjaga kualitas mutu air, menunjang tumbuh kembang ikan, dan menekan risiko jangkitan penyakit.

Mengenai aspek pemulihan lingkungan, Anshar memaparkan bahwa Biosaka mampu menetralkan aneka racun maupun residu kimia yang mengendap pada tanah, air, dan lingkungan sekitar.

“Harapannya, lingkungan tetap terjaga dan tidak banyak menggunakan bahan yang dapat meracuni tanaman, hewan maupun manusia,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa aplikasi Biosaka kerap disandingkan dengan upaya reduksi cemaran pada bahan pangan demi menjaga produk-produk pertanian agar tetap segar. Bagi Anshar, fondasi utama dari lahirnya Biosaka adalah mewujudkan ekosistem pertanian dan lingkungan yang selaras dengan alam.

“Biosaka ini untuk umat, agar manusia sehat, alam lestari, tumbuh-tumbuhan dan hewan juga lestari, tanpa meracuni tanaman, manusia dan lainnya,” ujarnya.

Muktamar NU ke-35 di Jombang ini menjadi momentum krusial untuk memperluas jangkauan gagasan dan kebermanfaatan Biosaka kepada masyarakat luas. Tingginya antusiasme yang terlihat di stand 57–58 membuktikan besarnya rasa ingin tahu publik untuk membawa pulang cairan alami tersebut.

Mengakhiri keterangannya, Anshar berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal Biosaka dan mengadopsi prinsip utamanya, yakni memanfaatkan potensi alam dengan tetap memprioritaskan kelestarian lingkungan, flora, fauna, serta kehidupan manusia.