Bertabur Beasiswa, Diterima di AS, Eropa dan Timteng, 1.161 Santri Amanatul Ummah Lolos PTN dan LN

SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Pondok Pesantren Amanatul Ummah kembali merajai penerimaan mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri dan Luar Negeri (LN). Tahun ini sebanyak 1.161 santri Amanatul Ummah lolos di ITB, UI, UGM, Unair, ITS, Undip, UIN, IPB, Unesa, UB, dan perguruan tinggi lainnya. Juga di perguruan tinggi Amerika Serikat, Australia, Rusia, China, Malaysia, Turki, Tunisia, Dubai, Yordania, Maroko, Mesir dan negara lainnya. Apa kuncinya?

“Saya sampaikan di mana-mana, saya siap menstransfer kesuksesan Amanatul Ummah ke semua pesantren NU di mana pun. Saya tak ingin sukses sendirian. Saya ingin semua pesantren NU sukses dan melakukan transformasi pendidikan seperti Amanatul Ummah,” ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu dikutip HARIAN BANGSA, Rabu 2 September 2026.

Menurut Kiai Asep, sebenarnya ini tugas PBNU. “Tapi karena PBNU tak melakukan ini, maka saya hampir tiap bulan, bahkan kadang tiap minggu, turun ke berbagai daerah seperti ke Aceh, Ambon, Kalimantan, Batam, Yogya, memberikan paparan pesantren transformatif,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu sembari mengatakan bahwa semua biaya ia tanggung sendiri lewat uang pribadi.

Untuk memajukan pesantren lain bahkan Kiai Asep tak segan-segan mengirim guru-guru terbaiknya untuk melatih guru di pesantren tersebut. “Karena kuncinya ada pada guru yang baik dan dukungan wali santri,” ujar Kiai Asep yang pada 2025 mendapat anugerah Bintang Maha Putra Nararya (bidang pendidikan) dari presiden.

Yang menakjubkan, banyak santri Amanatul Ummah diterima di banyak kampus luar negeri sekaligus. Misalnya Zivia Rizqotul Awwalin. Ia diterima di 17 kampus luar negeri. Antara lain di Curtin University Australia, Avila University Amerika Serikat, Jiaxing University China, dan lainnya.

Ada juga yang diterima di 6 kampus dan 5 kampus atau 3 kampus di luar negeri. Mereka adalah Intan Laila Ramadhani, Sevilla Zahro Eidelweis, Anies Sya’roni, dan banyak lagi.

“Tapi anak saya meneruskan di Malaysia,” ujar Sya’roni, orang tuan Anies Sya’roni.

Tahun ini santri Amanatul Ummah yang diterima di Fakultas Kedokteran sebanyak 50 santri. Mereka diterima di Fakultas Kedokteran kampus luar negeri dan dalam negeri. Antara Dila Nadhifa Lailatul Muhda diterima di Curtin University, Jasmine Annuriyah Azzahra diterima di Hainan Medical University, Muhammad Fahri Yiputra diterima di Universitas Airlngga dan lainnya.

Yang membahagiakan para wali santri banyak para santri diterima di kampus dalam dan luar negeri itu dengan beasiswa.

“Sehingga mereka kuliah tidak memberatkan orang tua. Dan yang mencarikan beasiswa itu  kita, Amanatul Ummah, para ustadz Amanatul Ummah. Para wali santri cukup berdoa saja dari rumah masing-masing,” ujar kiai yang popular sebagai ulama gemar bagi-bagi sarung dan sedekah itu.  

Tahun ini tak kurang 87 santri diterima di perguruan tinggi luar negeri dan dalam negeri dengan beasiswa. Yang juga luar biasa, saat pendaftaran ke PTN atau perguruan tinggi luar negeri, semua ditangani langsung oleh para ustadz Amanatul Ummah. Sehingga orang tua tak repot  dan bingung tapi tahu beres.

“Para santri memang kita antar dan kita carikan perguruan tinggi sesuai minat mereka. Yang mendaftarkan ke perguruan tinggi juga kita,” ujar Kiai Asep.

Kiai Asep juga membeberkan kunci sukses para santrinya. Menurut dia, selain mereka ditempa secara akademik lewat try out, para santri itu juga wajib shalat malam.

“Shalat malam adalah kendaraan menuju sukses,” ujar Kiai Asep yang mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Nararya dari Presiden Prabowo Subianto pada 2025.

Para santri Amanatul Ummah memang harus bangun sejak pukul 3.00 dini hari. Pantauan BANGSAONLINE di lokasi, sejak pukul 2.00 dini hari sudah terdengar suara seseorang membangunkan para santri. Suara itu datang dari Masjid Raya KH Abdul Chalim yang letaknya bersebelahan dengan kediaman pribadi Kiai Asep Saifuddin Chalim.

Ribuan santri putra dan putri berduyun-duyun menuju masjid sambil mengapit kitab Mukhtarul Ahadits An-Nawabiyah dan Fathul Qarib. Sebagian tampak menahan kantuk, sebagian lagi langsung shalat sunnah.

Tak lama kemudian mereka shalat malam atau shalat hajat secara berjemaah. Shalat hajat itu sebanyak 12 rakaat dengan 6 kali salam. Kemudian ditutup dengan shalat witir tiga rakaat dengan dua kali salam. Kadang ditutup hanya dengan satu rakaat shalat witir.

Kemudian mereka membaca Al-Quran sembari menunggu adzan Subuh. Usai shalat jemaah Subuh mereka langsung mengikuti pengajian kitab yang diasuh langsung oleh Kiai Asep.