Lagi, Kiai Asep ke Ploso, Minta Mbah Da Berkenan Jadi Rais Aam PBNU

KEDIRI, BANGSAONLINE.com – Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, kembali silaturahim ke kediaman KH Nurul Huda Djazuli, Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri Jawa Timur, Kamis (20/8/2026). Kali ini Kiai Asep bersama KH Abdulloh Kafabihi Mahrus, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Kiai Asep Saifuddin Chalim minita Mbah Da - panggilan warga NU terhadap Kiai Nurul Huda Djazuli - berkenan menjadi Rais Aam Syuriah PBNU

“Karena Kiai Nurul Huda adalah kiai sepuh yang bisa diterima oleh semua pihak dan tidak masuk dalam pusaran konflik PBNU. Jadi tidak ada resistensi, baik dari PCNU maupun PWNU, bahkan juga dari kiai-kiai sepuh lainnya,” ujar Kiai Asep Saifuddin Chalim kepada BANGSAONLINE usai bertemu Mbah Da . 

Pantauan BANGSAONLINE di lokasi, Kiai Asep dan Kiai Kafa - panggilan Kiai Kabihi Mahrus - tiba di Pesantren Putri Al Falah Ploso Kediri sekitar pukul 16.05 WIB. Kiai Kafa datang lebih dulu. Putra KH Mahrus Aly itu langsung menuju kediaman Gus Kautsar, putra Kiai Nurul Huda.

Tak lama kemudian Kiai Asep tiba. Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto itu juga diarahkan ke kediaman Gus Kautsar.

Setelah berbincang-bincang sebentar, Gus Kautsar mengajak Kiai Kafabih dan Kiai Asep menuju ndalem Kiai Nurul Huda Djazuli. Letaknya tak jauh dari kediaman Gus Kautsar. Dua kiai kharismatik tersebut berjalan bersama. Dengan didampingi Gus Kautsar, mereka langsung naik ke lantai dua kediaman Kiai Nurul Huda Djazuli.

Gus Kautsar mempersilakan Kiai Kafa dan Kiai Asep duduk di kursi persis depan pintu kamar pribadi Mbah Da. Tak lama kemudian Kiai Nurul Huda Djazuli keluar dari kamar pribadinya sembari tersenyum. Wajahnya tampak cerah dan bercahaya. Mbah Da tampak segar dan sumringah menyambut Kiai Kafabih dan Kiai Asep.

“Saya menyampaikan, jika beliau Rais Aam saya  siap jadi khadimnya. Saya tak perlu dimasukkan sebagai pengurus PBNU, tapi saya siap berkhidmat untuk NU,” ujar Kiai Asep yang merupakan putra pendiri NU KH Abdul Chalim.

Kiai Asep bahkan mengaku siap keliling Indonesia untuk menjalankan tugas Mbah Da.“Soal biaya saya pakai dana pribadi, uang saya priadi, tidak akan minta ke NU atau pemerintah. Karena saya selama ini sudah biasa membiayai Pergunu dan JKSN,” ujar Kiai Asep kepada BANGSAONLINE.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu selama ini memang aktif keliling Indonesia untuk melantik kepengurusan Pergunu dan JKSN di berbagai provinsi dan kabupaten seperti Sabang, Ambon, Manado, Singkawang, Batam dan daerah lainnya.

"Semua saya biayai sendiri," ujar Kiai Asep.

Menurut Kiai Asep, PBNU pasti sinergis dengan pemerintah. "Kalau tidak sinergis berarti ada yang salah. Bisa jadi NU-nya yang salah atau justru pemerintahnya yang salah. Kalau sama-sama benar pasti NU dan pemerintah berjalan seiring. Jadi PBNU pasti mendukung pemerintah karena NU termasuk pendiri Republik Indonesia,” ujar Kiai Asep.

Menurut Kiai Asep, sosok Kiai Nurul Huda sangat teduh sehingga bisa menciptakan  kesejukkan di tubuh PBNU terutama pasca konflik kemimpinan KH Miftahul Achyar dan Gus Yahya.

Seperti diberitakan BANGSAONLINE, Kiai Asep Saifuddin Chalim pada Jumat (7/8/2026) lalu juga silaturahim ke Mbah Da di Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri. Saat itu Kiai Asep bersama KH Mas’ud Masduki, Rais Syuriah PWNU Yogyakarta yang juga pengasuh Pondok Pesantren Ar-Robithoh Krapyak Lor Sleman Yogyakarta.

Semula sepakat datang bertiga dengan KH Ubaidullah Shodaqoh, Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah yang juga pengasuh Pondok Pesantren Bugen Al-Itqon Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Namun Kiai Ubaid berhalangan karena masih Jakarta.

Saat itu Kiai Mas’ud Masduki menyampaikan kondisi kepemimpinan NU yang terus konflik. Menurut Kiai Mas’ud,  para kiai  – termasuk Kiai Asep dan Kiai Ubaid – sangat prihatin terhadap konflik yang menimpa PBNU sekarang.

NU ke depan, kata Kiai Mas’ud Masduki, butuh figur Rais ‘Aam yang bijak, teduh, kharismatik, tidak politis, dan memiliki haibah atau wibawa yang bisa diterima semua pihak.

“Karena itu kami mohon Kiai berkenan menjadi Rais ‘Aam Syuriah PBNU,” ujar Kiai Mas’ud Masduki kepada Kiai Nurul Huda Djazuli.

Mendengar permintaan itu Kiai Nurul Huda Djazuli langsung tertawa.

“Saya ini orang desa,” ujar Mbah Da dengan penuh rendah hati.

Kiai Asep langsung menimpali. “Asal kiai berkenan, saya ikhlas jadi khadimnya. Saya tak perlu masuk pengurus. Saya tak perlu jadi wakil rais atau apa. Saya ikhlas. Yang penting kiai berkenan jadi Rais ‘Aam, karena situasinya sudah seperti ini,” ujar putra KH Abdul Chalim, salah seorang ulama pendiri NU yang juga pahlawan nasional itu.

Menurut Kiai Asep, PBNU butuh kiai sepuh yang teduh dan punya haibah kuat untuk meredam konflik sekaligus mempersatukan kembali para kiai yang selama ini terpecah.

“Nggak apa-apa saya disuruh-suruh, asal kiai berkenan,” ujar Kiai Asep.

 “Soal biaya saya pakai dana pribadi, uang saya priadi, tidak akan minta ke NU atau pemerintah. Karena saya selama ini sudah biasa membiayai Pergunu dan JKSN,” ujar Kiai Asep kepada BANGSAONLINE.

Menurut Kiai Asep, PBNU pasti sinergis dengan pemerintah. "Kalau tidak sinergis berarti ada yang salah. Bisa jadi NU-nya yang salah atau justru pemerintahnya yang salah. Kalau sama-sama benar pasti NU dan pemerintah berjalan seiring. Jadi PBNU pasti mendukung pemerintah karena NU termasuk pendiri Republik Indonesia,” ujar Kiai Asep.

Kiai Asep menilai sosok Kiai Nurul Huda sangat teduh sehingga bisa menciptakan  kesejukkan di tubuh PBNU terutama pasca konflik kemimpinan KH Miftachul Akhyar dan Gus Yahya.

Seperti diberitakan BANGSAONLINE, Kiai Asep Saifuddin Chalim pada Jumat (7/8/2026) lalu juga silaturahim ke Mbah Da di Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri. Saat itu Kiai Asep bersama KH Mas’ud Masduki, Rais Syuriah PWNU Yogyakarta yang juga pengasuh Pondok Pesantren Ar-Robithoh Krapyak Lor Sleman Yogyakarta.

Semula sepakat datang bertiga dengan KH Ubaidullah Shodaqoh, Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah yang juga pengasuh Pondok Pesantren Bugen Al-Itqon Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Namun Kiai Ubaid berhalangan karena masih Jakarta.

Saat itu Kiai Mas’ud Masduki menyampaikan kondisi kepemimpinan NU yang terus konflik. Menurut Kiai Mas’ud,  para kiai  – termasuk Kiai Asep dan Kiai Ubaid – sangat prihatin terhadap konflik yang menimpa PBNU sekarang.

NU ke depan, kata Kiai Mas’ud Masduki, butuh figur Rais ‘Aam yang bijak, teduh, kharismatik, tidak politis, dan memiliki haibah atau wibawa yang bisa diterima semua pihak.

“Karena itu kami mohon Kiai berkenan menjadi Rais ‘Aam Syuriah PBNU,” ujar Kiai Mas’ud Masduki kepada Kiai Nurul Huda Djazuli.

Mendengar permintaan itu Kiai Nurul Huda Djazuli langsung tertawa.

“Saya ini orang desa,” ujar Mbah Da dengan penuh rendah hati.

Kiai Asep langsung menimpali. “Asal kiai berkenan, saya ikhlas jadi khadimnya. Saya tak perlu masuk pengurus. Saya tak perlu jadi wakil rais atau apa. Saya ikhlas. Yang penting kiai berkenan jadi Rais ‘Aam, karena situasinya sudah seperti ini,” ujar putra KH Abdul Chalim, salah seorang ulama pendiri NU yang juga pahlawan nasional itu.

Menurut Kiai Asep, PBNU butuh kiai sepuh yang teduh dan punya haibah kuat untuk meredam konflik sekaligus mempersatukan kembali para kiai yang selama ini terpecah.

“Nggak apa-apa saya disuruh-suruh, asal kiai berkenan,” ujar Kiai Asep.