OJK Jatim Catat Pertumbuhan Positif Sektor Jasa Keuangan hingga Juli 2026

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jatim mencatat kinerja sektor jasa keuangan tetap tumbuh positif hingga Juli 2026. Pertumbuhan didukung intermediasi perbankan dan meningkatnya partisipasi masyarakat di pasar modal.

Hal tersebut disampaikan oleh Plt. Kepala OJK Jatim, Horas V. M. Tarihoran, dalam Media Briefing Triwulan III di Gedung Keuangan Negara Surabaya I pada Rabu (16/9/2026).

Penyaluran kredit perbankan mencapai Rp641,07 triliun, tumbuh 4,37 persen yoy, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp857,64 triliun, naik 5,06 persen yoy. Rasio permodalan tetap kuat dengan CAR 31,16 persen, sedangkan NPL gross tercatat 3,78 persen.

Kredit terutama disalurkan ke rumah tangga, perdagangan, dan industri pengolahan. Kredit UMKM tumbuh lebih lambat dengan NPL 5,43 persen, sementara KUR tetap positif dengan NPL 1,97 persen.

Horas menegaskan pertumbuhan sektor jasa keuangan harus memberi manfaat luas bagi masyarakat.

“Kami tidak hanya menjaga agar industri tumbuh sehat, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki akses, pemahaman, dan perlindungan memadai,” ujarnya.

Di pasar modal, Jawa Timur mencatat 58 emiten dan enam calon emiten potensial. Jumlah investor mencapai 3,37 juta SID, tumbuh 71,85 persen yoy, menjadikan Jatim provinsi dengan investor terbanyak ketiga nasional.

Investor Jatim juga mencatat net buy Rp542 miliar. Securities crowdfunding (SCF) tumbuh dengan 37 penerbit, 8.382 pemodal, dan dana Rp69,83 miliar.

OJK Jatim memperkuat perlindungan konsumen melalui APPK, layanan walk-in, dan SLIK. Sepanjang Januari-Juli 2026, tercatat 9.406 layanan walk-in, 32.758 layanan SLIK, serta 1.003 layanan APPK.

Satgas PASTI juga menangani sekitar 3.000 pengaduan kegiatan ilegal. Horas menyoroti meningkatnya laporan penipuan keuangan.

Melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), masyarakat Jatim melaporkan 85.677 kasus. Horas menyampaikan, “Kecepatan menjadi faktor penting dalam penanganan scam. Kami imbau masyarakat segera melapor melalui kanal resmi.”

Indeks literasi keuangan Jatim mencapai 72,07 persen, lebih tinggi dari nasional, dengan inklusi 91,86 persen. Program GENCARKAN mencatat 6.081 kegiatan edukasi dengan 1,33 juta peserta, sementara program KEJAR mencatat 12,04 juta rekening senilai Rp4,5 triliun.

OJK juga menginisiasi program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) berbasis komoditas susu sapi perah di Malang Raya. Dalam rangka Bulan Inklusi Keuangan 2026, OJK bersama FKIJK Jatim akan menghadirkan Pojok Keuangan Rakyat di Jatim Fest 2026, 30 September-4 Oktober, di Grand City Surabaya.

“Pertumbuhan dan perlindungan bukan hal terpisah, tetapi satu kesatuan untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan,” kata Horas. (mid/mar)