Romy Soekarno Dorong Gen Z Jadi Pemilih Kritis di Era Digital

KOTA BLITAR, BANGSAONLINE.com - Anggota Komisi II DPR RI, Romy Soekarno, menilai Generasi Z memiliki posisi strategis dalam menjaga kualitas demokrasi Indonesia di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Hal tersebut disampaikan saat Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan Tahun 2026 pada Minggu (20/9/2026) malam. Romy mendorong anak muda menjadi pemilih kritis, mandiri, dan memiliki literasi digital kuat.

Gen Z ini sangat nyambung ketika saya bicara digitalisasi pemilu, bagaimana itu hoaks, bagaimana itu buzzer. Saya memberikan arahan bagaimana mereka menjadi pemilih yang berjiwa merdeka,” ujarnya.

Menurut dia, kedekatan Gen Z dengan teknologi menjadi modal penting menghadapi tantangan demokrasi digital, mulai dari hoaks, buzzer, politik uang, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI). 

Ia menekankan pentingnya “jiwa merdeka” agar pemilih muda menentukan pilihan politik berdasarkan kesadaran sendiri.

Romy menilai pendidikan pemilih tidak cukup berhenti pada tata cara teknis pemilu. Pemilih muda perlu memahami rekam jejak kandidat, konsekuensi politik uang, serta dampak jangka panjang dari pilihan politik.

Ia juga memperkenalkan gagasan e-operating system sebagai “Kawah Candradimuka” bagi Gen Z untuk mengenal simulasi pemilu berbasis teknologi, termasuk e-voting.

Selain itu, Gen Z diharapkan menjadi penghubung literasi digital bagi masyarakat yang belum terbiasa dengan teknologi, seperti petani dan peternak.

“Yang ekonomi menengah ke bawah atau yang tidak mengerti teknologi, kalianlah yang harus bertugas untuk membicarakan kepada mereka,” katanya.

Romy menegaskan Gen Z tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi, tetapi harus mampu memilah hoaks, mengenali buzzer, serta memperluas wawasan tentang sejarah, geopolitik, teknologi, dan AI.

Ia berharap pendidikan pemilih berkelanjutan melahirkan generasi muda yang kritis, bertanggung jawab, dan ikut mengawal kualitas demokrasi menuju Pemilu 2029. (ina/mar)