Yang Mimpin PBNU Rais Am apa Rais Awam, KH Hasyim Muzadi: NU Bukan Mobil Taksi

Kiai Hasyim Muzadi menekankan bahwa ulama harus jadi pathokan umat terutama warga NU. ”Sekarang pathokan itu malah diseret-seret wedhus (kambing),” katanya disambut tepuk tangan peserta. ”Sekarang ini kiai malah dipidatone politisi. Seharusnya kiai yang menjadi pegangan para pengurus partai politik,” tambahnya.

Menurut dia, kasus-kasus ini terjadi akibat pengurus NU meninggalkan khitah 26. Kini para politisi mengendalikan mindset NU. ”Ini bahaya, karena NU kehilangan marwah atau muruah dan tidak dihargai baik oleh warga NU maupun oleh organisasi-organisasi di luar NU,” tegasnya. Begitu juga di tingkat nasional maupun internasional. NU tidak punya pengaruh signifikan.

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu mengingatkan pidato KH Ahmad Siddiq saat menutup Muktamar NU ke-27 di Situbondo Jawa Timur pada 1984. Saat itu, menurut Kiai Hasyim Muzadi, Kiai Ahmad Siddiq menyatakan bahwa NU itu ibarat kereta api, bukan mobil taksi. ”Relnya jelas, stasiunnya jelas. Di mana akan berhenti juga jelas,” katanya. Sehingga tak bisa berhenti sembarangan.

Beda dengan mobil taksi. ”Kalau mobil taksi tergantung yang menyewa,” katanya. Sehingga bisa berhenti sembarangan. Ketika didatangi calon gubernur non muslim muncul pernyataan bahwa pemimpin non muslim yang adil lebih baik ketimbang muslim tapi tidak adil. Tapi ketika datang calon lain pernyataannya berubah lagi. Akibatnya NU tak punya muruah dan tak dihargai umat Islam, termasuk tak dihargai warga NU sendiri.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini:Yang Mimpin PBNU Rais Am apa Rais Awam, KH Hasyim Muzadi: NU Bukan Mobil Taksi - Halaman 2