Keduanya diapresiasi oleh Tuhan sebagai langkah yang benar. Yang salah adalah yang menurut melakukan tindak kekufuran lahir batin. Perbuatannya, ucapannya, mencerminkan kekufuran dan hatinya menyetujui apa yang dilakukan. Itulah tindakan murtad, yakni kufur setelah beriman. Terhadap paksaan tersebut, agama tidak menghitungnya sebagai alasan karena hatinya tulus menerima apa yang dipaksakan. Paksaan hanyalah awal tekanan, tapi seterusnya adalah pilihan sendiri. Beda dengan hati yang memberontak dan ingkar.
Ayat studi ini memperlihatkan betapa kehidupan beragama itu banyak godaan, ujian, bahkan tekanan. Orang beriman akan mengalami hal demikian sebagai tes atas keimanannya. Salah satu ujian keimanan terberat adalah duniawi, harta, pangkat, pamor, nafsu dan lain-lain. Semakin mencintai duniawi, semakin mudah keimanan melemah. "Dzaalika bi-annahumu istahabbuu alhayaata alddunyaa ‘alaa al-aakhirati".
Orang islam yang cenderung menuruti nafsu duniawi, bukan bertindak atas dasar keimanan dengan orientasi akhirat nanti, Tuhan menyamakan mereka dengan gaya hidup orang-orang kafir dan Tuhan tidak berkenan. Selanjutnya, disindir sebagai orang kafir, "al-kafirin" (107). Karena bergaya hidup dan membaur dengan orang-orang kafir, akibatnya, qulub (nurani keimanan), sam' (pendengaran, kesadaran), abshar (pandangan, pemikiran) mereka tertutup, karena hanya duniawi saja yang menjadi target. Selanjutnya dikutuk sebagai orang-orang yang lalai, al-ghafilun (108). Kemudian, di akhirat nanti divonis sebagai orang-orang yang merugi "al-khasirun" (109).
Seperti tertera pada sabab nuzul, bahwa orang beriman mesti tangguh dan sedikit pun tidak pernah melakukan perbuatan yang sifatnya dekat dengan kekafiran. Lihatlah si Bilal ibn Abi Rabah, disiksa sedemikian pedih, tetap saja tidak mau bergabung dengan kekafiran, meski iming-iming indah ditawarkan.










