Menelusuri Jejak Kampung Religi di Surabaya (17): Jamaah Salat di Masjid Rahmat Tak Pernah Sepi

Raden Rahmat kenapa memilih lokasi Kampung Kembang Kuning sebagai tempat mendirikan Langgar Tiban menurutnya cukup masuk akal, karena pada waktu itu, di depan lokasi Masjid Rahmat ini merupakan sebuah sungai yang cukup besar hingga bisa dilalui oleh perahu-perahu jurusan ke Sungai Brantas.

“Armadanya para wali dulu adalah perahu untuk menyebarkan agama Islam. Sebelum ke Ampel Denta, Raden Rahmat singgah dulu di Kembang Kuning. Lokasi sungai persis di depan Masjid Rahmat, karena kebijakan jaman Belanda, maka ukurannya diperkecil seperti sekarang ini,” jelasnya.

Sumur tua ini sampai saat ini masih dipakai untuk kebutuhan berwudhu para jamaah saat rawatib di Masjid Rahmat. Berhubung jamaah salat ini bertambah banyak, maka diimbangi dengan air dari PDAM.

Meski datang musim kemarau, sumur ini tidak pernah kering. Bahkan bisa dipakai berwudhu orang banyak. Apabila air PDAM itu mati, sumur tua ini yang berperan melayani para jamaah dalam bersuci. “Pernah ada juga orang-orang yang meminta air ini sebagai sugesti untuk keluarganya yang sakit,” kenangnya.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: