Om Tolilet, Mengamen untuk Menghibur Hati yang Terluka Akibat Perlakuan Sang Istri Matre

Aji mengungkapkan, jauh sebelum dirinya merantau ke Pacitan, ia sempat membuka usaha sayur obrokan di Solo. Dengan mengendarai motor, bapak satu anak ini berkeliling dari satu kompleks perumahan ke perumahan lainnya untuk menjajakan sayuran, kala itu. Akan tetapi jerih payahnya sebagai penjual sayur keliling, sepertinya tak dihargai sang istri. Setiap memberikan sisa keuntungan dari berjualan, sang istri selalu mengeluh dan merasa kurang.

"Saya sempat putus asa. Sebab semua hasil yang saya berikan tak pernah dihargai. Sampai-sampai soal urusan ranjang, istriku selalu meminta uang dulu sebelum kami berkumpul. Ini yang lebih membuat saya sakit," cerita Aji dengan mata berkaca-kaca mengingat peristiwa pahit yang pernah dialaminya saat masih berkumpul dengan istrinya di Solo.

Tak hanya itu, campur tangan mertua juga semakin membuat bahtera rumah tangganya kian terguncang. "Mereka sama seperti istriku. Yang diutamakan materi dan materi," sambung Aji seakan menahan beban sangat dalam.

Berangkat dari sekilas cerita itulah, Aji akhirnya tak kuat lagi menjalani kehidupan berumah tangga bersama istrinya yang matre itu. Ia pun akhirnya memilih pergi, merantau ke Pacitan untuk sejenak melupakan masa lalunya itu. Meski begitu, Aji tak lantas lupa dengan tanggung jawab sebagai seorang suami. 


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: