"Sejak awal saya menolak berdirinya Alfamart jauh sebelum beroperasi, sampai sekarang pun tetap menolak. Hidup atau mati saya dengan jualan kelontong kebutuhan sehari-hari. Kalau berdampingan dengan Alfamart, bagaimana saya memenuhi kebutuhan anak saya yang masih SD, SMK, dan Mahasiswa yang membutuhkan biaya besar?," ujarnya kepada BANGSAONLINE.com, Sabtu (15/2)
"Saya buka sehabis subuh Mas, dan tutup jam 12 malam (pukul 24.00 WIB) karena ingin kebutuhan anak sekolah terpenuhi. Kalau jualan saya dengan Alfamart sama semuanya, kecuali hanya bensin saja yang beda. Bagaimana jualan saya bisa terjual? Kalau seperti ini saya harus mengadu ke siapa?," keluh dia.
Sementara ketika dikonfirmasi, Lurah Mlajah, Nurul membenarkan adanya penolakan dari keluarga Sahwani. Dia mengaku sudah datang ke rumah Sahwani menanyakan langsung tanggapannya akan didirikan pasar modern jauh sebelumnya. Kedatangannya bukan meminta persetujuan, tapi menanyakan respons Sahwani atas berdirinya minimarket tersebut.
"Itu langkah saya demi memastikan bahwa warga saya terlindungi usahanya, hal ini penting saya turun langsung," kata Nurul melalu sambungan telepon, Jumat (14/2).










