Lia Istifhama menjadi doktor ke-591 UINSA, setelah lulus dalam ujian disertasi terbuka program doktoral. foto: istimewa
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Lia Istifhama, putri mantan Ketua Ikasa (Ikatan Alumni IAIN Sunan Ampel-sebelum menjadi UIN), almarhum KH Masykur Hasyim, meraih gelar doktor di Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya dan resmi menjadi doktor ke-591 di UINSA.
Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Masdar Hilmy, S.Ag., M.A Ph.D berharap agar Ning Lia dapat semakin berkembang seiring dengan semakin matangnya karakter akademik yang tertanam selama menjalani pendidikan program S3. Prof Masdar mengungkapkan, progam S3 bukanlah akhir dari perjalanan karier akademik seseorang, akan tetapi baru sebuah permulaan.
BACA JUGA:
- 200 Siswa Surabaya Diduga Keracunan MBG, Ning Lia: Harus Ada Penyesuaian Porsi Sesuai Kemampuan SPPG
- Soroti Polemik Pemecatan Guru Yogi Susilo, Ning Lia Desak Investigasi Transparan Demi Keadilan
- DPD RI Lia Istifhama X KPID Jatim: RUU Penyiaran Harus Segera Disahkan
- Viral Banner Dicium ODGJ, Senator Cantik Ning Lia Istifhama Cerita ke Pak Purnomo, Sang Polisi Baik
“Masih panjang jalan karier akademik terbentang di depan Mbak Lia. Semoga bisa mengarungi dengan baik. Dan semoga bisa meneladani perjuangan almarhum Kiai, Abahnya (KH. Masykur Hasyim),” tandasnya, Kamis (6/8).
Bakal Calon Wakil Wali Kota dari PDI Perjuangan itu meraih gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya lewat Ujian Disertasi Terbuka (Tahap II) Promosi Doktor di Prodi S3 Ekonomi Syari’ah dengan judul Disertasi: Ketahanan Usaha Melalui Modal Sosial (Studi Pada Pedagang Muslim Pasar Soponyono Surabaya).
Ujian Terbuka Disertasi ini diketuai oleh Prof. Dr. H. Aswadi, M.Ag. Hadir sebagai promotor adalah Prof. Dr. H. Burhan Djamaluddin, MA sebagai Promotor I dan Dr. Sirajul Arifin, MEI bertindak sebagai Promotor II. Ujian Terbuka secara daring selama dua jam tersebut, bertindak sebagai penguji utama adalah Prof. Dr. H. Babun Suharto, M.M. dari IAIN Jember. Dewan penguji lainnya adalah Dr. H. M. Lathoif Ghozali, MA, Dr. H. Iskandar Ritonga, M.Ag, dan Dr. Mugiyati, MEI.
"Alhamdulillah, ini bukan persoalan tinggi hati dengan sebuah gelar. Melainkan ini semua adalah pencapaian yang tidak mudah. Proses yang harus dilalui sangat panjang dan membutuhkan konsentrasi tinggi,” ujar perempuan yang akrab disapa Ning Lia ini.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




