Rabu, 21 April 2021 12:49

Gagal Manfaatkan Air Pasang Nisfu Sya’ban, Ada Tiga Solusi Kapal yang Terdampar di Terusan Suez

Senin, 29 Maret 2021 07:22 WIB
Editor: mma
Gagal Manfaatkan Air Pasang Nisfu Sya’ban, Ada Tiga Solusi Kapal yang Terdampar di Terusan Suez
Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Kapal Ever Given yang terdampar di Terusan Suez belum ada solusi untuk mengapungkan kembali ke laut. Kini para ahli mulai berpikir untuk mengurangi bobot kapal yang panjangnya 400 meter lebar 59 meter itu. Ada tiga pilihan: cadangan air di kapal itu dibuang, atau bahan bakarnya, atau sebagian kontainer.

Mana yang akan dipilih? Silakan simak tulisan Dahlan Iskan di Disway dan HARIN BANGSA yang juga dimuat BANGSAONLINE.com di bawah ini. Selamat membaca:

PENDUDUK desa di tepi Terusan Suez itu punya tebak-tebakan baru: apa saja isi kontainer di atas kapal Ever Given yang terdampar di dekat rumah mereka itu.

Sejak Selasa pagi lalu salah satu kapal terbesar di dunia itu menjadi warga baru desa Manshiyet Rogola. Itulah desa yang berada di bibir Terusan Suez.

BACA JUGA : 

TPPI Tuban Dukung Penuh Evakuasi 16 Nelayan yang Mengalami Laka Laut

Cerita 16 Nelayan Terombang-ambing 2 Jam di Laut, Hingga Diselamatkan Kapal MT Queen Majesty

Kapal Terbakar, 16 Nelayan yang Diselamatkan Kapal MT Queen Tiba di Tuban

Kapal Ever Given, Dua Kali Lipat Kapal Titanic itu, Dimintai Ganti Rugi Rp 14 Tiliun

Selasa pagi lalu semua penduduk desa keluar rumah. Mereka lari ke pinggir Terusan Suez. Mereka mendongak sambil terkagum-kagum: begitu tinggi tumpukan kontainer di atas kapal itu.

Petugas desa melarang mereka merangsek terlalu dekat. Tapi kapal itu –saking besarnya–sudah seperti sedang parkir di halaman mereka.

Itulah desa terdekat dengan kapal yang buritan dan haluannya tertancap di bagian dangkal pinggiran terusan Suez, Mesir. Desa itu sangat miskin. Jalan-jalannya masih tanah berpasir. Persis tanah yang ada di tepi sungai buatan itu.

Mereka ada yang bermimpi: kalau satu saja kontainer itu diturunkan di desa itu, dan kontainer itu berisi kulkas, maka penduduk satu desa akan berkulkas semua. Padahal di atas kapal itu terdapat 20.000 kontainer ukuran 40 feet.

Pun kalau penduduk diperbolehkan mengambil satu saja, mereka tidak akan bisa menurunkannya. Kontainer paling atas di kapal itu lebih tinggi dari pohon korma tertinggi yang ada di desa itu.

Sepanjang Selasa siang itu mereka terkagum-kagum akan besarnya kapal yang tertancap di desa mereka. Yang panjangnya 400 meter. Lebarnya 59 meter.

Dan ketika senja telah tiba kekaguman itu bertambah-tambah. Apalagi ketika hari mulai gelap. Tiba-tiba saja desa itu seperti bertetangga dengan kota besar metropolitan. Yang lampu-lampunya bergemerlapan. Begitu banyak dan terang lampu-lampu penerangan di kapal itu.

Saya pernah menikmati pemandangan seperti itu. Dulu kala. Di Samarinda. Ketika malam tiba saya sering duduk-duduk di tepi sungai Mahakam. Dari tepian sungai yang gelap itu kami memandang ke tengah sungai: begitu banyak kapal besar terapung di tengah sungai. Itulah kapal-kapal Jepang pengangkut emas hijau –kayu-kayu dari hutan Kaltim. Cahaya lampunya begitu gemerlapan. Apalagi banyak yang memantul di permukaan air Mahakam. Listrik kota Samarinda yang waktu itu begitu redupnya seperti diejek oleh cahaya kapal-kapal asing itu.

Yang di desa Terusan Suez itu kapalnya bukan lagi di tengah sungai. Tapi menempel di desa mereka. Besarnya pun bukan lagi seperti kapal besar di sungai Mahakam –tapi salah satu yang terbesar di dunia. Maka cahaya listrik di desa itu langsung terasa redup –dipelototi cahaya gemerlap dari atas kapal.

Sudah enam hari desa itu menjadi begitu indahnya. Indah yang memilukan. Maka betapa kembali sepinya desa itu nanti, ketika Ever Given berhasil diapungkan –lalu meneruskan perjalanan menuju Rotterdam, Belanda.

Tapi kapan?

Air pasang tinggi di malam Nisfu Sa'ban (bulan purnama di tengah bulan Ruwah) kemarin ternyata gagal dimanfaatkan. Dengan air pasang saja kapal itu tidak berhasil diapungkan. Berarti kapal ini tertancap agak dalam.

Padahal japal penarik juga sudah ditambah menjadi 14 buah. Masih bergeming. Kemampuan kapal sedot pasir 2.000 m3/jam juga belum ada artinya.

Maka tidak banyak lagi pilihan. Sudah saatnya ilmu matematika yang tampil ke depan.

Anggap saja draft (permukaan air sampai bagian terbawah kapal) sedalam 14,5 meter. Maka, para ahli perkapalan menghitung, draft itu perlu dikurangi 1 meter –menjadi 13,5 meter.

Untuk itu tidak ada cara lain: muatan kapal itu harus dikurangi.

Dikurangi berapa?

Untuk menaikkan draft 1 meter itu, menurut hitungan mereka, muatan yang harus diturunkan sebesar 23 juta kilogram. Atau 230.000 ton.

Ada tiga pilihan: cadangan air di kapal itu yang dibuang, atau bahan bakarnya, atau sebagian kontainer.

Yang menghitung itu bukan penduduk desa Rogola. Jadi, tidak ada niat, misalnya, agar ada kontainer yang diturunkan di desa itu.

Yang menghitung tersebut adalah para ahli –yang tidak sabar melihat ratusan kapal ikut tersandera. Mereka antre di belakang dan di depan Ever Given untuk bisa segera melintasi Suez.

Kalau muatan yang dikurangi adalah air, maka diperlukan membuang air 27.000 ton. Itu sama dengan air di 10 kolam renang ukuran Olimpiade.

Membuangnya gampang: buang begitu saja ke Laut Merah. Tidak akan ada yang marah.

Bagaimana kalau yang dibuang itu bahan bakarnya? Bisa. Lebih cepat: hanya perlu membuang 23.000 ton minyak solar. Membuangnya juga gampang. Banyak kapal lain yang mau jadi tempat pembuangan. Toh harga air tawar tidak jauh lebih murah dari harga solar –apalagi kalau air itu dibeli di pelabuhan.

Bagaimana kalau jumlah kontainernya yang dikurangi?

Maafkan wahai penduduk desa, mengurangi jumlah kontainer ternyata paling sulit. Dari mana bisa mendapat crane setinggi tumpukan kontainer itu.

Apalagi, untuk mengurangi draft 1 meter diperlukan mengurangi sebanyak 605 kontainer. Asumsinya: ukuran setiap kontainer adalah 2,4 mt x 12,2 mt x 2,6 mt. Total volume: 76,1 m3. Density kontainer itu 500 Kg/m3. Maka massa satu kontainer adalah 38 ton.

Kalau berat kapal yang harus dibuang adalah 23 juta kilogram, maka perlu mengurangi 605 kontainer.

Tidak ada alat pengangkat kontainer sebanyak itu. Satu-satu pilihan adalah diangkat pakai helikopter khusus. Setiap 30 menit bisa berkurang satu kontainer. Di taruh di pinggir terusan. Pekerjaan itu memakan waktu 7 hari.

Maka secara matematika, pilihan terbaik adalah membuang bahan bakar. Enam hari lagi Ever Given akan kembali mengapung. Agar kapal lain yang sudah menunggu lebih 10 hari bisa bergerak.

Ayo kita tebak: cara mana yang akhirnya berhasil mengapungkan kapal Jepang yang disewa Taiwan itu. Yang berangkat dari Shenzhen untuk tujuan Amsterdam itu.

Kalau pun Ever Given berhasil diapungkan, persoalannya tidak akan tenggelam. Otoritas Terusan Suez mulai menyuarakan: ada masalah teknis dan manusia di drama Suez ini. Tidak akan mudah mencari kambing hitam di negeri kambing –Mesir itu. (*)

​Adu Hebat Tiga Presiden, Anekdot Gus Dur Edisi Ramadan (9)
Selasa, 20 April 2021 23:55 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Presiden Gus Dur mengajak jalan-jalan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan Presiden Prancis Jacques Shirac. Mereka pun naik pesawat terbang. Sambil ngobrol santai, mereka saling mengunggulkan negaranya masing-ma...
Jumat, 16 April 2021 16:59 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki cara menarik untuk memelihara infrastruktur fisiknya. Salah satunya, dengan menggelar festival kuliner di sepanjang pinggiran saluran primer Dam Limo, Kecamatan Tegaldlimo be...
Rabu, 21 April 2021 06:05 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Mengerikan. Mobil mewah Tesla terbakar. Yang menjadi misteri, tak ditemukan mayat di kursi kemudi. Mayat hanya ditemukan di kursi samping dan jok belakang.Apa sistem autopilot yang jadi kebanggaan Tesla tidak berfung...
Selasa, 20 April 2021 00:09 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*60. Wa-idz qaala muusaa lifataahu laa abrahu hattaa ablugha majma’a albahrayni aw amdhiya huqubaanDan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke ...
Minggu, 18 April 2021 12:17 WIB
Memasuki Bulan Ramadan dan ibadah puasa, rubrik ini akan menjawab pertanyaan soal-soal puasa. Tanya-Jawab tetap akan diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA)...