Kamis, 17 Juni 2021 16:20

Kerusuhan Mei 1998, Masyarakat Tionghoa Peringati dengan Rujak Pare Sambal Jombrang

Sabtu, 15 Mei 2021 09:10 WIB
Editor: mma
Kerusuhan Mei 1998, Masyarakat Tionghoa Peringati dengan Rujak Pare Sambal Jombrang
Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Kerusuhan 13 Mei 1998 terus diperingati oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia. Korban aksi anarkis itu sebagian memang etnis Tionghoa.

Uniknya, mereka memperingati dengan menyajikan rujak pare dan sambal jombrang. Apa maksudnya? Silakan baca tulisan Dahlan Iskan, wartawan kondang, di Disway dan BANGSAONLINE.com hari ini, Sabtu 15 Mei 2021. Selamat membaca:

MAKANLAH rujak pare dan sambal jombrang. Tiap tanggal 13 Mei –seperti Kamis lalu. Begitulah cara baru mengenang kerusuhan Mei 1998.

Memang ada yang menempuh cara budaya untuk memperingati kerusuhan besar itu. Itulah kerusuhan yang menjadi tonggak munculnya era demokratisasi di Indonesia sekarang ini.

BACA JUGA : 

Sudah Divaksin, 9 Anggota DPRD Surabaya Tertular Covid-19

Sikap Tionghoa Masa Peralihan: Pro Belanda, Netral, dan Pro Kemerdekaan

Tanpa Perang Pertumpahan Darah, Mochtar Kusumaatmadja Membuat Luas Indonesia Dua Kali Lipat

Produksi Mobil Listrik, Toyota dan VW Bakal Nyalip, Bagaimana Perusahaan Baterai Indonesia

Yang menggagas gerakan ''rujak pare dan sambal jombrang'' ini adalah tokoh Tionghoa Semarang: Harjanto Halim. Nama Tionghoanya Liem Toen Hian (林敦贤).

Gerakan makan "rujak pare dan sambal jombrang" ini disertai pakai pita hitam di lengan. Cara itu melengkapi cara-cara lain yang ada selama ini.

Misalnya ada kelompok yang minta peristiwa harus dilupakan saja. Agar tidak mengusik ketenangan yang sudah tercipta.

Ada pula yang ingin memaafkannya tapi jangan melupakannya. Ada lagi yang ngotot agar peristiwa tersebut harus diusut siapa dalangnya. Keadilan dan kebenaran harus ditegakkan.

Harjanto memilih jalan budaya. Ia ingin setiap tanggal 13 Mei, masyarakat Tionghoa membuat rujak pare dan sambal jombrang. Yang sangat pedas. Harjanto sampai menciptakan resep sendiri. Juga uraian bagaimana cara pembuatannya. Resep itu sudah ia masyarakatkan lewat medsos.

Ia sendiri punya medsos yang ia namakan ''DaHar'' –Dapur Harjanto. Dahar –yang dalam bahasa Jawa berarti makan– memuat banyak kegiatan dari rumah perkumpulan Boen Hian Tong (BHT). Harjanto sendiri adalah ketua BHT –yang dalam bahasa Indonesia disebut Perkumpulan Rasa Darma Semarang.

Kamis malam kemarin, ia kembali membuat rujak pare dan sambal jombrang. Untuk disajikan di altar sembahyang di kelenteng itu. Juga untuk disajikan bagi mereka yang ikut peringatan peristiwa Mei 1998 di situ.

Di altar itu kemarin juga diadakan upacara khusus: menempatkan ''sinci'' baru. Yakni sebilah kayu yang ditulisi nama seseorang yang sudah meninggal dunia.

Nama yang ada di sinci baru itu adalah: Ita Martadinata Haryono. Dia seorang gadis berumur 17 tahun. Kelas 2 SMA. Dia meninggal tanggal 9 Oktober 1998. Badannya tergeletak di lantai di kamar atas rumah orang tuanyi. Di Jakarta Timur. Lehernyi nyaris putus. Ada kayu tertancap di vaginanyi.

Nama Ita perlu ditempatkan di altar tersebut sebagai simbol korban kerusuhan Mei 1998.

Di altar tersebut, di tahun 2014, juga ditempatkan sinci orang terkenal: KH Abdurrahman Wahid. Gus Dur. Presiden ke-4 kita.

Dengan demikian siapa pun yang sembahyang di altar itu akan otomatis sembahyang juga untuk Gus Dur dan Ita Martadinata.

Sebagai aktivis Tionghoa, Harjanto terus berpikir bagaimana menempatkan peristiwa kerusuhan Mei 1998. Yang tidak perlu membuka luka lama tapi juga jangan sampai melupakannya. Maka ia memilih lewat cara budaya itu.

Sudah menjadi budaya di kalangan Tionghoa untuk selalu memperingati sesuatu dengan sajian makanan. Ada hari raya bakcang, hari raya rebutan, hari raya Imlek, cap gomeh –yang semuanya serba bernuansa makanan.

Maka Harjanto berpikir makanan apa yang cocok untuk memperingati kerusuhan Mei 1998.

Pertama, ia temukan pare. Yang rasanya pahit itu. Meski pahit pare bisa untuk makanan. Agar ada unsur pahit dan pedas ketemulah rujak. Rujak pare.

Lalu harus ada unsur wanita. Itu lantaran korban kerusuhan tersebut adalah wanita. Yakni wanita Tionghoa. Wanita dilambangkan bunga. Tapi bunga apa yang sekaligus bisa untuk makanan?

Ketemulah bunga jombrang. Bunga jombrang sulit dicari, tapi istri saya selalu menemukan cara mendapatkannya. Istri saya sering menyambal dengan ramuan jombrang. Saya tahu bentuknya dan rasanya. Itu memang bunga minoritas.

"Sambal jombrangnya harus pedas. Harus sampai bisa membuat air mata keluar," ujar Harjanto saat ngobrol dengan saya kemarin. "Kita menangis setiap mengenang peristiwa itu," katanya.

Peringatan Mei 1998 pertama dilakukan Harjanto tahun 2008. Tepat 10 tahun setelah kejadian. Lalu ia adakan lagi tahun 2018. Sepuluh tahun kedua.

Di peringatan tahun 2018 itulah rujak pare dan sambal jombrang mulai disajikan. Diteruskan di tahun 2019. Lalu tahun 2020. Peringatannya tidak lagi tiap 10 tahun.

Tahun ini, ditambah acara baru: penempatan sinci Ita Martadinata tadi. Dia mewakili seluruh korban kerusuhan Mei 1998.

Yang juga istimewa, peringatan tahun ini disertai seminar virtual. Dengan pembicara Christianto Wibisono dan Ita Fatia Nadia. Chris membicarakannya dari aspek politik. Fatia dari aspek hak asasi manusia dan hak perempuan.

"Ita Martadinata itu sengaja dibunuh oleh sistem politik," ujar Fatia Nadia. "Ita bukan dibunuh Otong, pembantu rumah tangga. Otong itu hanya dikorbankan," ujar Fatia di Zoom tersebut.

Fatia adalah relawan untuk mengurus korban kerusuhan Mei 1998. Waktu itu bersama Romo Sandiawan –yang sekarang bukan Romo lagi karena sudah menikah.

Ita adalah korban kerusuhan itu. Dia anak pengusaha mebel. Ibunyi seorang aktivis perempuan.

Kenapa Ita dibunuh?

Menurut Fatia, Ita akan berangkat ke Jenewa. Di sana Ita akan memberikan kesaksian sebagai wanita korban kerusuhan Mei. "Ita sudah latihan bagaimana membacakan teks kesaksiannyi," ujar Fatia.

Fatia sendiri yang membimbing Ita cara-cara bersaksi di lembaga internasional. Kesaksian itu akan disampaikan dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Mandarin.

Fatia memang terus berjuang untuk menegakkan hak-hak asasi manusia dan hak-hak perempuan. Dia pula yang pertama menjadi ketua lembaga hak-hak perempuan di Indonesia.

Itu, menurut Fatia, merupakan hasil pertemuan tokoh-tokoh pejuang hak wanita dengan Presiden B.J. Habibie.

"Presiden Habibie menyatakan percaya 100 persen adanya pemerkosaan pada wanita-wanita Tionghoa di peristiwa Mei," ujar Fatia.

Fatia memang termasuk yang tetap memperjuangkan tiga hal untuk peristiwa Mei 1998: kebenaran, penegakan keadilan, dan rehabilitasi. Tapi dia juga menganggap ide rujak pare dan sambal jombrang dari Semarang itu ide yang sangat baik. (Bersambung) 

Soal Anggaran Menhan untuk Alutsista Rp 1.700 Triliun, Ini Komentar Kiai Asep
Kamis, 17 Juni 2021 00:22 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Heboh anggaran untuk membeli Alutsista sebesar Rp 1.700 Triliun membuat Menteri Pertahanan Prabowo Subianto terus mendapat sorotan publik. Padahal, menurut Prabowo, master plan atau grand design itu permintaan ...
Jumat, 04 Juni 2021 10:27 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Bukit Kehi, destinasi wisata yang satu ini berada di Kota Pamekasan. Bukit Kehi menawarkan pemandangan daerah pegunungan yang hijau mempesona. Pengunjung bahkan bisa berenang di sejuknya hawa pegunungan di pulau gar...
Kamis, 17 Juni 2021 05:46 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Di Indonesia, terutama di Bangkalan dan Kudus, Covid-19 mengganas. Ratusan orang meninggal dunia.Tapi di belahan dunia lain Covid-19 justru lenyap. Inilah yang terjadi di California. Warganya pun berpesta. Pesta merd...
Minggu, 16 Mei 2021 06:58 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*65. fawajadaa ‘abdan min ‘ibaadinaa aataynaahu rahmatan min ‘indinaa wa’allamnaahu min ladunnaa ‘ilmaanLalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berika...
Sabtu, 12 Juni 2021 09:55 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...