Pejuang Melayu, Riau Merdeka dan Sastrawan

Pejuang Melayu, Riau Merdeka dan Sastrawan Dahlan Iskan

Al Azhar sendiri tidak pernah masuk ke arena politik. Ia menjadi dosen di Universitas Islam Riau dan Universitas Lancang Kuning. ”Beliau sangat visioner. Jadi acuan Melayu sampai semenanjung,” ujar Rida.

”Istilah di sini beliau itu jadi pancang nibung,” ujar Rida kemarin. Maksudnya, orang seperti Azhar itu menjadi tempat bertanya dan mengadu.

Tentu Al Azhar tidak akan diam ketika budaya Melayu diusik orang. Pun kalau yang mengusik itu tokoh besar seperti menteri agama yang sekarang. Yakni, ketika Menag mengatakan Riau adalah pusat ekstremis.

Al Azhar memang membela habis-habisan Ustad Abdul Somad (UAS). Keduanya sekampung di Rokan Hulu, Riau. UAS pun bersedih mendengar Al Azhar meninggal. UAS sedang di Aceh. Dari Aceh, UAS merekam doa di HP-nya. Dikirim ke Pekanbaru. Untuk diperdengarkan di telinga Azhar yang lagi kritis di rumah sakit.

Doa itulah yang mengantarkan Al Azhar ke alam baka. Dari Aceh, UAS langsung menulis puisi:

”Engkau bela aku saat lara mendera.

Engkau tabalkan Datuk Seri Ulama Setia Negara untuk membantah fitnah dan huru-hara.

Engkau tak pernah minta balas jasa.

Berita sakit pun tak sampai ke telinga.

Saat aku jauh di seberang Sumatera. Datang kabar mengharukan jiwa.

Sempat terkirim Al-Fatihah dan doa. Rupa-rupanya itu pengiring Datuk pergi selamanya. Adapun silap, salah, dan lupa.

Tiada manusia lepas darinya. Biarlah Allah Azza wa Jalla menghapus dan mengganti dengan balasan mulia”.

Tentu tokoh seperti Azhar juga tidak bisa menerima pandangan Barat mengenai tipologi Melayu yang negatif. Yang secara telak diwujudkan dalam satu judul buku: Slow Boat from Malay.

Menurut Azhar, itu cara penjajah untuk menyudutkan Melayu. ”Bagaimana bisa bodoh dan lamban ketika Melayu bisa menciptakan bahasa yang begitu hebat. Yang bisa menyatukan bangsa Indonesia. Dan bisa menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara,” kutip Rida dari pendapat Azhar.

Saya juga terus membaca artikel Prof Yusmar:

”Kami berdua bak tangkai bunga yang menjulur dari lelangit Riau. Angkatan awal, 80-an, yang membina kesadaran Melayu (Malay conscience) lewat dialog-dialog kebudayaan serantau dan dunia kepenulisan.

Antara saya dan Azhar, tersalin sejumlah peristiwa ’datang dan pergi’ demi Malay thought (Melayu secara pemikiran/pemikiran Melayu) di ranah gugah dan ranah senyap. Dan saling melengkapi”.

Yusmar dan Azhar memang bebatang setangkai. Mereka adalah tangan kanan dan kiri tubuh Melayu. Nama keduanya selalu diucap beriring pun sampai nun di semenanjung. Dan juga di Jakarta. ”Betawi punya apa. Riau punya dua tembok budaya Melayu yang kukuh,” ujar Ridwan Saidi suatu ketika.

Belakangan dua setangkai itu mencari jalan berbeda. Tanpa berseberangan. ”Biarlah engkau tetap di jalur riuh, saya akan menjalani jalan sepi ini,” tulis Yusmar. Yang terakhir itu lantas masuk ke dunia tasawuf yang suwung. Ia keluar dari gemuruh perjuangan adat Melayu. Tapi, tetap saja Selasa malam itu Yusmar merasa kehilangan salah satu lengannya.

”Selamat jalan sobat ’lengan ku’... menyatulah dalam kilau komet cahaya yang melintas di pucuk ruang sebelah sana. (Dahlan Iskan)