Pendeta Saifuddin Ekspresikan Radikalisme Kristen, Mau Larang Umat Islam Haji ke Makah

Saifuddin Ibrahim bahkan mengaku pernah menjadi guru di Az-Zaitun, pondok pesantren yang tak ada hubungan, baik secara historis maupun kultural, apalagi dari segi pemikiran keagamaan, dengan pesantren yang dikelola para kiai NU.

Berari pendeta radikal itu asbun alias asal bunyi. Karena pendeta eksrem itu tak berbicara beradasarkan data. Syaifuddin Ibrahim tak paham bahwa pondok pesantren – terutama pesantren NU – justeru sangat toleran dan mengajarkan secara intensif kearifan lokal.

Yang perlu diingat, pondok pesantren NU yang jumlahnya mencapai ratusan ribu bahkan jutaan itulah yang terlibat perang kemerdekaan melawan penjajah, baik Belanda, Inggris maupun Jepang. Sementara kelompok Kristen di Indonesia pada saat perjuangan kemerdekaan justeru banyak berkolaborasi dengan penjajah Belanda karena sama-sama beragama Kristen. Itu fakta tak terbantah.

Prof Dr Nurcholis Madjid (Cak Nur), cendekiawan muslim terkemuka lulusan Universitas Chicago Amerika Serikat (AS), pernah mengatakan bahwa pada saat penjajahan Belanda orang Tionghoa memilih beragama Kristen karena status sosial penjajah itu lebih tinggi. Artinya, kelompok Kristen di Indonesia lebih pro penjajah Belanda ketimbang membela tanah air, meski sekarang justeru kelompok Kristen yang paling banyak menikmati jerih payah umat Islam yang berjuang mempertaruhkan jiwa dan raga dalam memerdekakan Indonesia.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: