Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, saat memimpin acara Lailatul Ijtima’ dan pengajian Al-Hikam serta Ahalussunnah Wal Jamaah (Aswaja) di Guest House IKHAC Pacet Mojokerto, Kamis (17/3/2022). Foto: MMA/bangsaonline.com
“Ketiga, doa kita dikabulkan dengan cara tidak dikabulkan. Karena Allah mengabulkan dengan kasih sayangnya,” kata Kiai Asep.

Kiai Asep lalu memberi contoh kasus anaknya. Ia bercerita bahwa salah satu anaknya lulus Sekolah Menengah Atas rangking no 1, sedang temannya lulus dengan rangking nomor 5.
Dua anak itu lalu mendaftar ke ITB dengan memilih studi teknik pertambangan. “Tapi anak saya yang rangking 1 tidak lulus, sedang temannya yang rangking 5 atau berapa itu lulus,” kata Kiai Asep.
Kiai Asep lalu menasehati anaknya agar tidak kecewa. “Anak saya mendaftar di Unair dan diterima di Fakultas Farmasi, “ tutur Kiai Asep. Ternyata, kata Kiai Asep, anaknya menjadi mahasiswa lulusan terbaik Unair secara nasional.
“Umur 20 tahun sudah jadi apoteker,” kata Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, inilah contoh doa yang dikabulkan dengan cara tidak dikabulkan. Allah SWT memberikan yang lebih baik daripada yang ia minta.
“Ini cara Allah. Karena itu kita tak boleh memaksakan diri. Kita harus introspeksi. Sehingga kita menjadi orang bijak dan tidak terjadi kekecewaan,” kata ketua umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.
Kiai Asep juga mengatakan bahwa ada lima malam yang mustajabah untuk doa. Yaitu malam Hari Raya Idul Fitri, malam Idul Adha, malam pertama bulan Rajab, malam lima belas Sya'ban dan malam Jumat.
Dalam acara itu pengajian Aswaja diisi Dr Puji Abdul Hamid dari Jember. Sedang pengajian umum disampaikan KH Abdusshomad Buchori, mantan ketua MUI Jatim.
Hadir dalam acara itu para kiai, antara lain: KH Muhammad Roziqi, Ketua Baznas dan DMI Jatim, KH Dr M Sujak, Kepala Dewan Pengelola Masjid Al Akbar Surabaya dan kiai lainnya. (mma)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




