Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim saat memimpin shalat malam dan istighatsah di kantor JKSN di Jalan Siwalankerto Utara Surabaya, Senin (4/5/2026) malam. Foto: MMA/bangsaonline
SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Ditunjuknya Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Sekjen PBNU, sebagai Ketua Panitia Pelaksana Muktamar ke-35 NU ternyata memantik persoalan. Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dikabarkan tidak setuju alias menolak. Gus Yahya bahkan menilai penunjukan Gus Ipul sebagai Organizing Committee (OC) baru pendapat pribadi-pribadi karena belum ada proses.
Merespons pro-kontra itu Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim mengusulkan jalan tengah.
BACA JUGA:
- PWNU dan 23 PCNU se-Jawa Barat Dukung Kiai Asep Calon Rais 'Aam PBNU
- Orasi Ilmiah di UIN Surabaya, Mensos Gus Ipul Ulas Fondasi Indonesia Emas 2045
- Forum Rais Syuriyah PCNU se-Jatim Sampaikan 5 Rekomendasi ke PBNU
- Antre Sedekah Kiai Asep, Ratusan Orang Datang Sejak Pukul 3 Malam di Siwalankerto Surabaya
“Panitia Muktamar NU mestinya netral. Bukan kelompoknya Kiai Miftah-Saiful dan juga bukan kelompoknya Gus Yahya. Lalu siapa mereka? Diambilkan dari pengurus-pengurus PWNU,” ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim dalam acara shalat malam dan istighatsah di Kantor Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Jalan Siwalankerto Utara Surabaya, Senin (4/5/2026) malam.
“Sehingga penyelenggaraannya benar-benar netral, adil dan tidak terjadi risywah,” tambah putra KH Abdul Chalim, salah seorang ulama pendiri NU yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada Agustus 2023 itu.
Acara shalat malam dan istighatsah itu diselenggarakan secara rutin oleh Kiai Asep memang untuk menyongsong Muktamar ke-35 NU yang rencananya digelar pada Agustus 2026 mendatang. Selain itu juga untuk mendoakan keselamatan bangsa dan negara Indonesia.
Menurut Kiai Asep, gonjang-ganjing PBNU yang sekarang terjadi tak lepas dari adanya risywah dalam muktamar-muktamar NU selama ini.
“Risywah itu terjadi di Muktamar Makassar, Muktamar Jombang, Muktamar Lampung,” ujar Kiai Asep yang mengasuh dua pesantren, yaitu Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Surabaya dan Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Pacet Mojokerto Jawa Timur.
Karena itu, Kiai Asep memohon kepada orang-orang yang terang-terangan melakukan risywah pada kepanitiaan muktamar-muktamar sebelumnya jangan terlibat lagi dalam kepanitiaan Muktamar ke-35 NU mendatang.
“Sebab pasti kebiasaan (risywah) itu akan berlanjut,” ujar mantan Ketua PCNU Kota Surabaya.
Kiai Asep juga berharap calon Rais ‘Aam maupun calon Ketua Umum PBNU, Sekjen, Katib ‘Aam dan Bendahara Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU mendatang adalah orang-orang yang clear (tidak terlibat konflik) dan clean (bersih).
“Agar warga Nahdlatul Ulama tenang dan jemaah Nahdlatul Ulama di desa-desa memiliki harapan karena terwakili dalam muktamar yang baik sehingga lahir pemimpin-pemimpin NU yang baik yang bisa mewujudkan kembali khittah dan perjuangan seperti saat NU didirikan,” ujarnya.
Menurut Kiai Asep, NU saat berdiri adalah mengawal dan mengembangkan serta mendominasikan paham Ahlussunnah Wal Jemaah. Selain itu juga untuk perjuangan kemerdekaan bangsa.
“Karena Ahlussunnan Wal Jemaah itu adalah paham persatuan dan kesatuan, inklusif dan mudarah (moderat),” ujarnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




