Piala Dunia 2022 Qatar terancam sepi penonton karena berbagai asalan. (foto: instagram qfa)
Hal lain yang menjadi alasan sepinya suasana Piala Dunia kali ini yakni kurang bergemanya theme song resmi Piala Dunia Qatar.
Lagu resmi Piala Dunia adalah salah satu yang paling ditunggu selain maskot yang menjadi ikon Piala Dunia 2022.
Pada penyelenggaraan Piala Dunia edisi sebelumnya, theme song biasanya sudah tidak asing di telinga penggemar sepak bola sebulan sebelum kick off.
Banyaknya polemik seputar penunjukan Qatar sebagai tuan rumah juga membuat gaung Piala Dunia tidak seramai biasanya. Selain itu, banyaknya isu pelanggaran HAM selama perencanaan justru berhembus lebih kencang.
Qatar terpilih sebagai tuan rumah penyelenggara Piala Dunia 2022 sejak 2010. Negara penghasil minyak tersebut mengalahkan Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.
Namun, terpilihnya negara di kawasan teluk itu dibarengi dengan sejumlah kontroversi. Qatar dicurigai telah menyuap sejumlah pejabat FIFA untuk memenuhi keinginannya menjadi tuan rumah. Mantan Presiden UEFA Michel Platini, mantan Presiden FIFA Sepp Blatter, serta 16 pejabat yang ada di dalam FIFA bahkan ikut terseret.
Awal November lalu, Sepp Blatter mengakui terpilihnya negara yang beribu kota Doha sebagai tuan rumah merupakan sebuah kesalahan.
"Qatar merupakan sebuah kesalahan. Pilihan yang buruk. Qatar terlalu kecil untuk penyelenggara Piala Dunia. Sepak bola dan Piala Dunia juga terlalu besar untuk hal itu," tutur Blatter, seperti dikutip dari Reuters.
Selain penunjukan yang penuh polemik, Qatar juga banyak dikecam karena dinilai banyak melakukan pelanggaran HAM sejak pertama kali diumumkan.
Pemerintah Qatar sendiri sudah menghabiskan anggaran dana hingga US$ 200 miliar untuk keberhasilan Piala Dunia. Anggaran dana tersebut 20 kali lipat lebih tinggi dibandingkan yang dihabiskan di Piala Dunia 2018 yang diselenggarakan di Rusia.
Media online dari Inggris, The Guardian melaporkan setidaknya lebih 6.500 pekerja migran dari India, Pakistan, Nepal, Bangladesh, dan Sri Lanka tewas di Qatar sejak ditunjuk sebagai penyelenggara Piala Dunia 2022. Kebanyakan dari mereka adalah pekerja di bidang konstruksi.
Ketatnya kebijakan serta mahalnya tiket dan sewa hotel juga menentukan antusiasme penggemar luar negeri untuk mendukung secara langsung tim kesayangannya. (git).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




