Kaesang Pangarep. Foto: YouTube
Pasti ada yang bertanya. Apa bedanya dengan Partai Demokrat dan PDIP yang juga dipimpin oleh keluarga? Dipimpin bapak (SBY) dan anak (AHY)? Atau ibu (Megawati) dan anak (Puan dan keluarga lainnya)? Atau PKB yang dipimpin oleh adik (Cak Imin) dan kakak (Halim Iskandar)? Bukankah PDIP, Demokrat an PKB juga dipimpin secara dinasti politik?
Memang tak ada bedanya. Hanya saja ketika Megawati awal memimpin PDIP dan SBY mendirikan Demokrat saat itu belum dibayang-bayangi oleh keluarga secara dominan.
Begitu juga PKB. Saat Gus Dur dan kiai-kiai NU mendirikan PKB tidak ada bayang keluarga dominan. Sehingga baik PDIP maupun Demokrat dan PKB memperoleh simpati publik, meski kemudian banyak yang kecewa.
Sebaliknya, PSI masih dalam posisi partai gurem faktor keluarga atau dinasti politik Jokowi sudah dominan. Otomatis sulit mendapat kepercayaan rakyat.
Keempat, PSI salah kelola dan intoleran. Stigma ini kuat sekali. Ini tentu fenomena menarik. Bahkan beberapa manuver politik PSI sangat pragmatis dan konservatif. Padahal PSI mencitrakan diri sebagai partai anak muda.
Sehingga muncul stigma bahwa PSI partai anak muda yang cara berpikirnya tua dan konservatif bahkan intoleran. Stigma ini muncul ketika Tsamara Amany keluar dari jajaran pengurus DPP PSI. Wanita berwajah Arab itu dihujat oleh pendukung PSI secara kasar dan norak. Ia dicap kadrun, antek Yaman, dan dikaitkan dengan urusan seks karena suaminya keturunan Arab.
Saat peristiwa itu tejadi Jokowi masih gagah perkasa. Buzzer masih melimpah. Sehingga siapapun yang berhadapan dengan PSI atau Jokowi akan dihajar secara massif oleh buzzer yang siap menyerang.
Tapi apalah arti buzzer. Seratus juta buzzer pun tak akan pernah bermetamorfosis menjadi kekuatan elektoral. Buzzer hanya periuh sesaat yang tak mewakili kekuatan riil suara rakyat. Buzzer identik dengan gerakan tanpa otak karena semata memburu cuan recehan. Apalagi satu orang bisa memiliki 25 akun. bahkan banyak buzzer yang sejatinya mesin.
Praktis hanya penguasa bodoh yang terus memelihara buzzer. Faktanya, kini Jokowi justru menjadi bulan-bulanan netizen.
Peristiwa ini semakin menunjukkn bahwa PSI salah Kelola sekaligus intoleran.
Kelima, sektarian. Isu Jokowisme menjadi taqline PSI. Ini pernah dilontarkan Grace Natalie Louisa, Wakil Ketua Pembina PSI. Bahkan Grace bertekad akan terus mengusung Jokowisme.
Ini tentu naif. PSI yang mengklaim sebagai partai anak muda justru berusaha untuk mempersonalisasi institusi. Padahal kita semua tahu bahwa rekayasa politik untuk mempersonalisasi institusi tak akan pernah membesarkan partai politik. Sebaliknya justru akan menghambat gerak partai karena memicu sikap sectarian yang sempit.
Apalagi figur Jokowi sekarang sudah babak belur di mata rakyat.
Wallahua’lam bisshawab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




