Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
Khofifah juga mengingatkan, pemahaman informasi tidak cukup dilakukan secara tekstual, melainkan harus kontekstual agar tidak terjadi kesalahpahaman. Menurutnya, hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi yang beredar cepat melalui gawai dapat memicu dampak negatif jika tidak disikapi dengan bijak.
“Banyaknya informasi yang kita terima juga harus diimbangi kemampuan untuk filtering, harus bijak menerima informasi dan tidak sembarang membagikan informasi, ini penting saat ini,” sambungnya.
Ia turut menyoroti tantangan literasi tradisional di tengah kemajuan teknologi digital yang berpotensi menciptakan kesenjangan baru dalam akses pembelajaran.
“Ini harus menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Khofifah pun mengungkap capaian literasi di Jawa Timur. Nilai Tingkat Gemar Membaca (TGM) Provinsi Jawa Timur tahun 2024 tercatat sebesar 77,15 (kategori tinggi), sementara Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) berada di angka 78,60 (kategori sedang).
Mengakhiri pernyataannya, Khofifah mengajak masyarakat agar terus meningkatkan literasi digital sebagai keterampilan penting di era informasi.
“Kembali saya mengajak agar semua berliterasi dengan lebih komprehensif, saring before sharing, kembali saring before sharing, supaya tidak termakan dan tidak menyebar hoax serta provokasi,” pungkasnya. (dev/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




