Aguk Irawan MN. Foto: ist
Ada sebuah cerita yang sering berulang: tentang bagaimana ia sangat hati-hati dan teliti dalam hal harta. Baginya, harta negara atau harta umat adalah api. Jika sampai memakan sesuap saja yang bukan haknya ia akan membakar jiwa. Di zaman ketika uang negara kerap dianggap rezeki nomer wahid, Mbah Bisri justru memilih untuk mengabaikannya, seolah-olah lembaran rupiah yang berbau birokrasi itu adalah ilusi yang tak layak dipungut.
Jikapun terpaksa ia menerima gaji dari posisinya sebagai anggota KNIP dan Dewan Konstituante atau DPR, maka gaji itu seluruhnya digunakan untuk kepentingan NU dan pesantren, sementara untuk kebutuhan sehari-harinya hanya dari hasil pertanian. Kesederhanaannya adalah kritik yang tajam bagi kita yang hidup di tahun 2025 ini—zaman di mana kemewahan sering kali dipamerkan tanpa rasa malu di tengah kemiskinan yang masih menganga.
Kemarin, dalam suasana yang lancar dan khidmat di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, kita diingatkan kembali: menjadi pengikut Mbah Bisri berarti berani mengambil jalan yang sulit. Jalan yang mengutamakan hukum di atas selera, dan mengutamakan rakyat kecil di atas kepentingan golongan.
Mbah Bisri telah pergi 47 tahun yang lalu, namun ruhnya tetap berdenyut dalam tiap doa yang dilantunkan para santri. Denanyar, di usianya yang ke-111, bukan sekadar tumpukan bata dan semen. Ia adalah monumen hidup dari sebuah cita-cita: bahwa agama harus menjadi pembela mereka yang papa, dan pesantren harus menjadi benteng terakhir moralitas bangsa.
Kita tidak hanya mengenang seorang kiai; kita sedang bercermin pada sebuah integritas yang utuh. Di tengah dunia yang kian bising dan penuh kepura-puraan, sosok Mbah Bisri Syansuri adalah kompas yang menunjuk pada satu arah yang pasti: pengabdian tanpa tepi kepada Sang Khalik dan kemanusiaan.
Sekali ilagi, keteladanan Mbah Bisri bukanlah kisah tentang pertapaan di puncak gunung, melainkan hikayat tentang "perjalanan" yang, pada dasarnya, seluruhnya adalah pengabdian kepada agama, bangsa dan negara. Selamat ulang tahun, Mamba’ul Ma’arif. Selamat beristirahat dalam cahaya, Mbah Bisri. Al-Fatihah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




