Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. Foto: The Guardian
TEL AVIV, BANGSAONLINE.com – Surat kabar Amerika Serikat (AS), The New York Times, memberitakan tentang kondisi Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu yang ditulisnya sebagai orang frustrasi menghadapi Mossad, badan intelijen Israel. Menurut koran terkemuka AS yang pro zionis itu, Mossad sebagai badan mata-mata Israel telah gagal menggulingkan pemerintahan Iran.
Padahal Mossad berjanji kepada Netanyahu akan menggulingkan pemerintah Iran dengan cara memprovokasi rakyat Iran agar mereka protes atau memberontak kepdada pemerintah sehingga AS dan Israel memenangkan perang melawan Iran. Ternyata fakta yang terjadi sebaliknya, rakyat Iran justeru kompak dan solid mendukung Mujtaba Hossein Khamenei sehingga AS dan Israel kedodoran melawan Iran.
Masih menurut berita The New York Times, Kepala Mossad David Barnea telah bertemu dengan Netanyahu beberapa hari sebelum AS dan Israel memulai perang mereka terhadap Iran. Dalam pertemuan itu, Barnea mengatakan kepada Netanyahu bahwa badan mata-mata Israel tersebut akan mampu menggalang oposisi Iran untuk mewujudkan perubahan rezim.
The New York Times mengutip wawancara dengan pejabat AS dan Israel, Barnea juga menyampaikan proposalnya kepada pejabat senior AS selama kunjungan ke Washington pada pertengahan Januari 2026 lalu.
Rencana tersebut kemudian diterima oleh Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump. Namun baik Trump maupun Netanyahu serta beberapa pejabat senior Amerika dan intelijen militer Israel sebenarnya ragu terhadap janji-janni Mossad itu.
Tapi, menurut pejabat AS dan Israel, janji-janji Mossad itulah yang kemudian digunakan oleh Netanyahu untuk meyakinkan Trump bahwa runtuhnya pemerintahan Iran adalah mungkin.
Dalam konsep Mossad, perang akan dimulai dengan pembunuhan para pemimpin Iran, terutama Ali Khamenei. Kemudian diikuti oleh serangkaian operasi intelijen yang bertujuan untuk mendorong perubahan rezim. Mossad meyakinkan bahwa operasi intelijen dapat menyebabkan pemberontakan massal rakyat Iran yang akan membawa kemenangan bagi Israel dan AS.
Trump tampaknya termakan oleh janji-janji Mossad. Buktinya, saat perang dimulai, pesan publik yang disampaikan oleh Trump mencerminkan skenario yang dirancang Mossad.
Ini bisa dilihat dalam pernyataan Trump dalam video berdurasi delapan menit. Trump berkata: “Akhirnya, kepada rakyat Iran yang hebat dan bangga, saya katakan malam ini bahwa saat kebebasan Anda sudah dekat...ketika kita selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda untuk beberapa generasi.”
Ternyata Trump tertipu Mossad. Skenario Mossad gagal total. Faktanya, janji Mossad akan menggulingkan pemerintahan Iran dan menggantinya dengan pemimpin yang bisa dikendalikan Israel dan Amerika tak terbukti. Bahkan kurang dari dua minggu kemudian, para senator AS keluar dari pengarahan tentang perang. Mereka mengatakan bahwa menggulingkan Republik Islam bukanlah salah satu tujuannya, dan bahwa sebenarnya “tidak ada rencana” sama sekali untuk operasi militer tersebut.
Yang menarik, proposal Mossad berbeda 180 derajat dengan Central Intelligence Agency (CIA) alias Badan Intelijen Pusat Amerika. CIA justru menilai bahwa pemerintahan Iran tidak akan digulingkan. Beberapa hari sebelumnya AS dan Israel menyerang Iran, CIA justeru memperingatkan Trump. CIA saat itu mengumumkan hasil mata-matanya kepada publik, jika para pemimpin Iran terbunuh, maka kepemimpinan yang "lebih radikal" akan mengambil alih kekuasaan di Iran.
Jadi, beda jauh hasil analisis antara CIA dengan Intelijen Israel yang melihat pemerintah Iran melemah tetapi masih utuh.
“Keyakinan bahwa Israel dan Amerika Serikat dapat membantu memicu pemberontakan yang meluas adalah kesalahan mendasar dalam persiapan perang yang telah menyebar ke seluruh Timur Tengah,” tulis The New York Times dalam laporannya seperti dikutip Sindonews.
Masih menurut The New York Times, dalam pertemuan keamanan beberapa hari setelah perang dimulai, Netanyahu mengatakan bahwa Trump dapat mengakhiri perang kapan saja jika operasi Mossad tidak membuahkan hasil. Janji-janji Mossad, menurut laporan The New York Times, dibantah oleh banyak pejabat senior AS dan analis di badan intelijen militer Israel; Aman.
Sementara para pemimpin militer AS mengatakan kepada Trump bahwa warga Iran tidak akan turun ke jalan saat bom berjatuhan. Karena itu para pejabat intelijen menilai bahwa kemungkinan terjadinya pemberontakan massal sangat rendah. Tapi Trump sudah terlanjur kena tipu Mossad.

























