Sekitar 9 juta warga Amerika Serikat turun jalan meneriakkan No King. Demo itu meledak di kota-kota besar di Amerika Serikat. Mereka memprotes Presiden Amerika Serikat Donald Trump terutama soal perang dengan Iran yang dianggap tak ada manfaatnya. Mereka menilai perang itu justru merugikan rakyat Amerika Serikat. Foto: CNN
NEW YORK, BANGSAONLINE.com – Aksi massa meledak di Amerika Serikat (AS). Sekitar 9 juta rakyat AS di kota-kota besar turun ke jalan melakukan protes terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Demo jutaan rakyat AS itu meneriakkan “No King”, Sabtu (28/3/2026).
"Di Amerika, kita tidak punya raja," tulis situs No Kings yang kemudian viral di seantero dunia.
"Polisi Rahasia bertopeng meneror komunitas kita. Perang ilegal dan dahsyat yang membahayakan kita dan meningkatkan biaya hidup. Serangan terhadap kebebasan bicara, hak sipil, dan hak kebebasan memilih," teriak para demonstran berskala besar itu.
"Tapi ini, Amerika dan kekuasaan adalah milik rakyat, bukan milik calon raja atau kroni miliarder mereka," tambah jutaan demonstran itu yang meneriakkan No King.
Para demonstran membawa poster bertuliskan keresahan mereka. Mereka menolak kebijakan imigrasi, konflik dengan Iran, hingga biaya hidup yang melesat.
"No King. No Trump. Takeover," tulis beberapa poster seperti dilaporkan CINN.
Demostrasi jutaan orang itu meledak di kota-kota besar seperti New York, Los Angeles, Chicago, hingga Alaska. Gelombang demo besar itu juga berlangsung di wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis Partai Republik. Antara lain di Texas, Florida, Ohio, Idaho, Wyoming, dan Utah.
Menurut CNN, demonstrasi ini adalah kali kedua terbesar di periode kedua Trump memimpin AS. Sebelumnya, pada Juni tahun lalu unjuk rasa bertema serupa digelar.
Bukan hanya warga AS yang mengecam Trump. Komunitas dan organisasi internasional juga menghujat Trumps terutama usai menggempur Iran bersama Israel.
Seperti diberitakan, AS bersama sekutunya Israel melancarkan operasi secara brutal sejak 28 Februari. Aksi brutal milir itu mengakibatkan Ali Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran meninggal. Korban dikabarkan mencapai ribuan warga sipil Iran.
"Saya mengutuk eskalasi militer hari ini di Timur Tengah. Penggunaan kekuatan oleh Amerika Serikat & Israel terhadap Iran, dan pembalasan selanjutnya oleh Iran di seluruh wilayah, merusak perdamaian & keamanan internasional," kata Gutteres pada 28 Februari.
Duta Besar Kolombia untuk PBB Leonor Zalabat Torres juga mengecam tindakan militer yang melanggar piagam PBB dari pihak manapun yang melakukan.
"Saat kekerasan menggantikan hukum, tatanan internasional melemah dan barbarisme mengambil alih tempatnya," kata dia dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB.
"Yang pertama kali dirugikan adalah warga sipil," imbuh dia.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan operasi Amerika Serikat dan Israel di Iran ilegal dan sembrono. Dia menyebut negara Eropa itu tak berdiri sendiri.
"Kami berdiri dengan nilai-nilai konstitusi kami, prinsip-prinsip Uni Eropa, Piagam PBB dan hukum internasional, dan dengan perdamaian," kata Sanchez pada awal Maret.
Dia juga berujar, "Naif jika mempercayai kekerasan adalah jawaban atau mengikuti kepemimpinan yang buta."
Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memang terus mendapat kecaman dari berbagai belahan dunia. Terumasuk dari rakyat Amerika sendiri.

























