Tiga Prediksi Analis Geopolitik China: Amerika Bakal Kalah Lawan Iran, Ini Alasan Logisnya

Tiga Prediksi Analis Geopolitik China: Amerika Bakal Kalah Lawan Iran, Ini Alasan Logisnya Jiang Xueqin. Foto: TikTok/annherdy

BEIJING, BANGSAONLINE.com - Popularitas analis geopolik Jiang Xueqin langsung melambung saat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militernya menyerang Republik Islam Iran. Maklum, analis geopolitik asal Tiongkok atau China itu sangat jitu dalam memprediksi peristiwa politik, termasuk konflik Timur Tengah yang banyak dipengaruhi AS.

Meski banyak yang memanggil professor, karena reputasi akademiknya, tapi Jiang yang alumnus Yale University AS itu lebih suka disebut sebagai peneliti independen yang fokus pada inovasi pendidikan dan masa depan. Sejak 2022 ia mengajar di Moonshot Academy di Beijing, China.

Yang menarik, Jiang melakukan kajian geopolitik dengan pendekatan predictive history (sejarah prediktif).

Ia banyak melontarkan analisis politik dalam video. Salah satu videonya berjudul Geo-Strategy #8: The Iran Trap (Mei 2024). Dalam video yang kemudian sangat viral itu Jiang melontarkan tiga prediksi besar tentang sepak terjang Presiden Trump, terutama terkait Timur Tengah.

Pertama, menurut Jiang, Donald Trump akan kembali ke tampuk kekuasaan, setelah ia sempat kalah pilpres melawan Joe Bidden dalam Pilpres 2020.

Prediksi Jiang pada 2024 itu jitu. Trump benar-benar terpilih sebagai presiden AS untuk kedua kalinya, meski sempat kalah. Trump dilantik sebagai presiden ke-47 pada 20 Januari 2025.

Kedua, pada tahun 2024 itu Jiang “meramal” bahwa akan terjadi konflik militer terbuka antara AS dan Iran. Sekarang ramalan Jiang itu telah menjadi kenyataan.

Ketiga, Jiang memprediksi bahwa Amerika Serikat akan kalah perang melawan Iran. Menurut Jiang, konfrontasi ini bukan sekadar pamer kekuatan udara, melainkan potensi lubang hitam yang akan melahap pasukan AS.

Jiang mengungkapkan alasan logis mengapa Iran merupakan lawan yang mustahil ditaklukkan melalui operasi militer standar. Faktor utamanya adalah geografi. Berbeda dengan medan perang di Irak atau Libya, Iran adalah benteng alam raksasa yang dikelilingi oleh barisan pegunungan terjal.

“Iran pada dasarnya adalah benteng alami. Jika pasukan Amerika masuk dengan jumlah terbatas, mereka bisa terjebak dan berubah dari penyerang menjadi sandera,” ungkap Jiang dalam analisisnya dikutip inilah.com.

Menurut Jiang, negara Iran yang dipenuhi gunung-gunung tersebut menjadi tempat persembunyian sempurna bagi pangkalan roket, drone, dan rudal balistik. Dalam pandangan Jiang, pengerahan 100 ribu tentara—jumlah yang lazim dikerahkan AS dalam operasi regional—tidak akan cukup.

Untuk benar-benar menguasai Iran, tegas Jiang, dibutuhkan jutaan tentara, sebuah angka yang mustahil dipenuhi Washington tanpa mengorbankan stabilitas dalam negerinya sendiri.

Jiang memprediksi bahwa periode antara 2026 hingga 2029 akan menjadi masa yang sangat krusial. Jika kebijakan luar negeri AS terus bersifat agresif, mereka justru akan masuk ke dalam 'Perangkap Iran' yang bisa berujung pada bencana strategis. Bagi Jiang, ketika debu peperangan ini mengendap, tatanan dunia dipastikan tidak akan pernah sama lagi. Dan Iran bisa menjadi kekuatan dunia, terutama dunia Islam.