Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, saat khutbah shalat Idul Fitri 1447 Hijriyah di Masjid Raya KH Abdul Chalim Pondok Pesantren Amanatul Ummah Kembangbelor Pacet Mojokerto, Jawa Timur, Sabtu (21/3/2026). Foto: MMA/bangsaonline
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com – Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, menjadi khatib sekaligus imam shalat Idul Fitri 1447 Hijriyah di Masjid Raya KH Abdul Chalim Pondok Pesantren Amanatul Ummah Kembangbelor Pacet Mojokerto, Jawa Timur, Sabtu (21/3/2026). Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto itu mendoakan pemimpin tertinggi Iran Mujtaba Hosseini Khamenei pada khutbah kedua.
“Berilah kemenangan Sayyid Mujtaba dan rakyat yang dipimpinnya. Semenang-menangnya,” ujar Kiai Asep Saifuddin Chalim dalam doa khutbah kedua yang langsung diamini para jemaah shalat Idul Fitri.
BACA JUGA:
- Ketua Panitia Muktamar NU Harus Adil dan Netral, Bukan Kubu Kiai Miftah, Bukan Kubu Gus Yahya
- Kiai Asep Bertemu Dubes Mesir Bahas Pendidikan, Mesir Siap Kirim 1.000 Guru Bahasa Arab
- Imbas Perang Global terhadap Indonesia, IAIN Gorontalo Gelar Seminar Disrupsi Ekonomi
- PW JKSN Gorontalo Dilantik, Bertekad Mandiri dan Profesional
“Hancurkanlah musuh-musuh mereka,” tambah Kiai Asep yang lagi-lagi diamini seluruh jemaah shalat Ied.
Menurut Kiai Asep, umat Islam harus mendukung Iran. Karena Iran selain simbol Islam yang tegas dan berani melawan hegemoni Barat – terutama Amerika Serikat dan Israel – juga melawan kedzaliman Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
“Ya Allah, kami orang-orang lemah. Kami mengharapkan kasih sayang-MU agar doa kami dikabulkan. Doanya orang terpaksa, hampir tenggelam. Jangan jadikan doa kami tidak dikabulkan,” doa Kiai Asep menghiba kepada Allah SWT.
Umat Islam – terutama para pemimpin Islam – harus berani menyatakan sikap. Minimal kita aktif mendoakan kemenangan bagi Iran.
“Kita harus berani menyampaikan doa agar kita tidak munafik,” tegas Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, Ali Khamenei adalah seorang ulama besar, pemimpin Islam yang tegas dan berani serta berintegritas. “Tapi dibunuh oleh Amerika dan Israel seperti membunuh ayam,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.
Kiai Asep mengaku sengaja mendoakan Mujtaba Khamenei secara terbuka kepada publik agar menjadi motivasi bagi umat Islam. “Sebab ada orang yang berdoa saja tidak berani karena berbagai pertimbangan, termmasuk pertimbangan politik,” ujar Kiai Asep kepada BANGSAONLINE.
Kiai Asep mengaku bersyukur wilayatul faqih atau Dewan Pakar Iran yang berjumlah 88 ulama alim sepakat memilih Mujtaba Husseini menjadi pengganti Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, yang gugur dalam serarangan pertama Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026 lalu.
“Dengan demikian ada semangat untuk terus melawan Amerika dan Israel akibat dibunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei yang merupakan ayahnya,” ujar putra KH Abdul Chalim, ulama pendiri NU dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang pada 2023 ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
Apalagi, dalam serangan Amerika dan Israel itu, tidak hanya membunuh Ali Khamenei, ayahanda Mujtaba Hussaini, tapi juga membunuh Zahra Haddad-Adel, istri Mujtaba sendiri. Bahkan cucu Ali Khamenei, Zahra Mohammadi Golpayegani, juga ikut terbunuh.
Dengan demikian, tegas Kiai Asep, Mujtaba Hosseini Khamanei dipastikan tegas dan tidak mau kompromi dengan Amerika dan Israel.
Apa yang disampaikan Kiai Asep benar. Apalagi beberapa hari kemudian, Kepala Keamanan Iran Ali Larijani juga terbunuh saat mengunjungi kediaman putrinya di Pardis, pinggiran Kota Teheran.
Mujtaba langsung menyampaikan pernyataan sehari setelah pemerintahan Iran mengumumkan terbunuhnya Ali Larijani.






