Peserta Ajang Kompetisi Sains Remaja Amanantul Ummah (AKSARA) TKA se-Jawa Timur yang digelar di Student Centre Pacet Mojokerto, Ahad (29/3/2026) pagi, membludak. Foto: MMA/bangsaonline
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com – Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, mengaku prihatin atas hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Jawa Timur yang kalah dengan daerah lain. Terutama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
“Jawa Timur kalah dengan Yogyakarta,” ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto saat menyampaikan sambutan di depan para siswa-siswi MTs dan SMP peserta Ajang Kompetisi Sains Remaja Amanantul Ummah (AKSARA) TKA se-Jawa Timur, Ahad (29/3/2026) pagi.
Acara itu digelar di Student Centre Pacet Mojokerto. Yaitu gedung yang baru dibangun oleh Kiai Asep untuk fasilitas olahraga para santri Amanatul Ummah. Gedung yang menghabiskan beaya miliaran rupiah itu juga untuk pertemuan berskala besar.
Dalam acara itu hadir Gus Ilyas, putra Kiai Asep, yang memimpin Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) dan SMA Berbasis Pesantren (BP) serta unit pendidikan di bawah Amanatul Ummah lainnya. Juga hadir Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokekrto Lutfi serta para ustadz Amanatul Ummah.

Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, saat memberikan pengarahaan dalam acara Ajang Kompetisi Sains Remaja Amanantul Ummah (AKSARA) TKA se-Jawa Timur yang digelar di Student Centre Pacet Mojokerto, Ahad (29/3/2026) pagi, membludak. Foto: MMA/bangsaonline
Memang skor akademik tertinggi TKA 2025 didominasi DIY. Provinsi yang dipimpin Sultan Hemengkubuwono X itu meraih nilai tertinggi se-Indonesia dengan rata-rata 43,09.
“Kecuali Amanatul Ummah yang nilainya istimewa dan baik. Andakan sekolah-sekolah SMA di Jawa Timur itu sama nilai TKA-nya dengan Amanatul Ummah pasti Jawa Timur nomor satu,” ujar Kiai Asep.
DIY konsisten di posisi pertama dengan nilai rerata tinggi (Bahasa Indonesia ~65,89, Matematika ~41,14–43,09) dan persentase pendaftar tertinggi (~95%).
Sedangkan DKI Jakarta sangat kuat di Bahasa Inggris (~33,23) dan Bahasa Indonesia (~63,39).
Kmudian Jawa Tengah menempati posisi atas dalam penguasaan Matematika (~39,16) dan Bahasa Indonesia (~61,56)
Kiai Asep tak ingin kekalahan Jawa Timut itu terus terjadi. Karena itu kiai miliarder tapi dermawan itu lalu berisiatif menggelar AKSARA TKA untuk siswa-siswi MTs dan SMP se-Jawa Timur.
“Acara ini diadakan untuk melatih mental siswa-siswi SMP dan MTs agar siap berkompetisi dalam menghadapi dan mengikuti TKA yang akan dimulai pada tanggal 6 April minggu depan,” ujarnya.
Ternyata peserta AKSARA TKA yang digelar Lembaga Pendidikan Unggulan Amantul Ummah itu membludak.

Peserta Ajang Kompetisi Sains Remaja Amanantul Ummah (AKSARA) TKA se-Jawa Timur yang digelar di Student Centre Pacet Mojokerto, Ahad (29/3/2026) pagi, membludak. Foto: MMA/bangsaonline
Pantauan BANGSAONLINE, ribuan siswa-siswi itu tampak didampingi para guru dari sekolah masing-masing. Yang menarik, mereka selain bisa mengikuti ajang prestasi secara gratis juga mendapat konsumsi yang juga gratis. Bahkan soal-soal yang diujikan juga boleh dibawa pulang.
“Nanti soalnya bisa dibawa pulang. Kemudian sekolah masing-masing mengadakan tryout lagi dan tryout terakhir langsung pakai komputer dan laptop, agar terbiasa terbiasa mengerjakan soal dengan laptop,” ujar Kiai Asep yang tahun lalu mendapat penghargaan Bintang Maha Putra Nararya dari Presiden RI Prabowo Subianto.
“Agar bisa meraih nilai Istimewa sehingga Jawa Timur menjadi baik untuk tingkat MTs dan SMP-nya,” tambah Kiai Asep.
Putra pahlawan nasional KH Abdul Chalim itu tampak sangat penduli terhadap kualitas pendidikan generasi bangsa. “Minggu depan saya akan mengadakan lagi untuk anak-anak SD. Pesertanya juga ribuan,” kata Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, ada informasi bahwa nilai TKA itu tak penting karena tidak menentukan kelulusan siswa-siswi. “Tapi nilai TKA itu akan menjadi dokumen sekolah masing-masing,” ujar Kiai Asep. Bahkan juga menjadi kebanggaan sekolah.
“Kalau sekolah Amantul Ummah sudah terdokumentasi di semua perguruan tinggi negeri dan luar negeri,” tutur Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, nilai TKA itu sangat penting. Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Perrgunu) itu memberi contoh tentang Universitas Pertahanan (Unhan).
“Kalau daftar di Unhan, sebelum mengikuti tes ada seleksi adiministrasi yang harus menyertakan nilai TKA. Nilainya harus Istimewa dan baik. Kalau nilainya memadai tidak diterima. Jadi minimal baik,” ujar Kiai Asep sembari menyebutkan bahwa 29 santri Madrasah Aliyah Bertaraf Internasional (MBI) Amanatul Ummah telah lolos seleksi administrasi Unhan tahun 2026 kecuali satu orang yang tidak lolos.
“Kalau lulus dari Unhan langsung berpangkat Letnan Dua,” tambah Kiai Asep sembari mengyebutkan bahwa SMA Berbasis Pesantren dan Madrasah Aliyah Istimewa juga banyak lolos seleksi administrasi di Unhan untuk tahun 2026.
Kiai Asep mengaku ingin prestasi lembaga pendidikan Amanatul Ummah yang telah menembus semua perguruan tinggi negeri favorit dalam negeri dan luar negeri bisa ditularkan ke lembaga pendidikan lain, terutama pondok pesantren. Ia berharap lembaga pendidikan atau pondok pesantren lain melakuan transformasi pendidikan.
“Kalau Amanatul Ummah kan sudah melakukan transformasi pendidikan,” ujar Kiai Asep.
Ia memberi contoh lulusan Amanatul Ummah pada 2025 yang 100 persen diterima di perguruan tinggi negeri favorit baik di dalam negeri maupun luar negeri.
“Seperti dimuat koran itu,” tutur Kiai Asep. Yang dimaksud koran adalah koran HARIAN BANGSA yang memuat berita 1.269 santri Amanatul Ummah dterima di perguruan tinggi negeri dan luar negeri.
“Sebanyak 62 santri Amanatul Ummah diterima di kedokteran. Bukan hanya di perguruan tinggi dalam negeri seperti Unair, tapi juga di kedokteran Jerman, China dan negara lainnya,” tegas Kiai Asep.
“Yang diterima di Unhan 10 orang. Yang enam diterima di kedokteran (Unhan),” ujar Kiai Asep.
Dalam acara AKSARA TKA itu para santri Amanatul Ummah juga ikut serta. Tapi mereka tak ikut dinilai sebagai peserta AKSARA TKA. Sehingga kompetisi itu berjalan fair dan obyektif.
“Acara ini untuk para murid di luar Amanatul Ummah. Tidak obyektif dan tidak adil kalau yang mengadakan Amanatul Ummah tapi murid Amanatul Ummah juga ikut dinilai. Nanti penilaian unuk santri Amanatul Ummah secara internal,” ujar Kiai Asep sembari menjamin bahwa acara itu obyektif siapapun juaranya.
Usai menyampaikan sambutan dalam acara AKSARA TKA, Kiai Asep langsung meluncur ke Gedung Serbaguna Afia. Tak lama kemudian datang Menteri Haji dan Umrah Dr KH Mochammad Irfan Yusuf (Gus Irfan).
Kiai Asep dan Gus Irfan sempat melakukan pembicaraan khusus di dalam kamar. Setelah itu Gus Irfan pamit menuju acara Halal Bihalal Ikatan Keluarga Pesantren Tebuireng (IKAPETE) Mojokerto.
Kiai Asep kemudian memberikan taushiyah dalam acara Halal Bihalal Madrasah Hikmatul Amananah. Acara itu dihadiri Bupati Mojokerto Dr Muhammad Al Baraa (Gus Bara) dan ratusan kepala sekolah serta guru dari beberapa kecamatan di Mojokerto.
Selain itu juga hadir para anggora DPRD Mojokerto. Antara lain Ahmad Dofir, Khoirul Amin (wakil ketua DPRD), Ainul Yaqin dan lainnya.
Kiai Asep kemudian kembali ke Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Di kediamannya – di lantai dua - sudah menunggu para guru pendamping murid-murid peserta AKSARA TKA. Kiai Asep juga memberikan pengarahan sekaligus mimpin doa.
Kiai Asep lagi-lagi pamit karena di ruang tamu kediamannya – di lantai satu - juga sudah menunggu para ketua dan pengurus Pergunu dari berbagai kabupaten dan kota daerah Jawa Timur. Mereka dipimpin M Najib, Ketua PW Pergunu Jawa Timur.
Jam menunjukkan pukul 12.00 siang. Hujan turun. Deras sekali. Tapi kediaman Kiai Asep tetap ramai. Tamu terus berdatangn. Bahkan antre.

























