Mengapa Tradisi Lebaran Ketupat di Madura Lebih Sosial daripada Idulfitri?

Mengapa Tradisi Lebaran Ketupat di Madura Lebih Sosial daripada Idulfitri? Achmad Fauzi.

Oleh Achmad Fauzi*

Di Madura, lebaran tidak benar-benar usai saat gema takbir mereda. Masyarakat Madura justru menemukan puncak maknanya sepekan setelah Idulfitri, dalam sebuah tradisi yang sederhana namun sarat tafsir "Lebaran Ketupat".

Di hari ke tujuh Syawal, dapur-dapur warga kembali hidup. Asap mengepul dari tungku, aroma santan dan rempah menyatu di udara, ketupat tersusun rapi, disandingkan dengan opor ayam kental, yang oleh masyarakat Bangkalan dan Sampang dikenal sebagai ayam adhun. Menu yang tampak biasa, tetapi justru di situ letak istimewanya, kesederhanaan yang mengikat kebersamaan.

Namun, Lebaran Ketupat bukan sekadar soal hidangan. Ia adalah bahasa budaya, cara masyarakat Madura merawat makna lebaran agar tidak lekas usai.

Di Sumenep dan Pamekasan, tradisi ini bahkan mengambil bentuk yang lebih komunal. Warga berbondong-bondong membawa ketupat dan lauk ke masjid atau langgar. Tidak ada undangan resmi, tidak ada sekat sosial. Orang-orang datang, berkumpul, lalu makan bersama. Dalam suasana yang cair, perbedaan larut, dan jarak sosial menghilang.

Di titik ini, ketupat berhenti menjadi makanan. Ia menjelma simbol.

Anyaman janur yang saling bersilang merekam realitas hidup manusia, rumit, terikat, dan tak lepas dari salah.

Sementara nasi putih di dalamnya menjadi penanda harapan, bahwa setelah melalui Ramadan dan puasa Syawal, manusia kembali pada kebeningan hati, kesucian yang lebih sempurna.

Lihat juga video 'Minta Pesawat yang Bisa Mendarat di Matahari':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO