Gus Lilur Serukan Muktamar NU Jadi Ajang Pemurnian Arah Perjuangan

Ringkasan Berita
  • Gus Lilur meminta Muktamar ke-35 NU menjadi momentum pemurnian arah perjuangan, bukan arena perebutan kekuasaan, dengan memilih pemimpin yang menjadikan NU penjaga keutuhan bangsa.
  • Ia mengingatkan Muktamar ke-34 sebagai pelajaran pahit agar tidak salah pilih pemimpin yang berakibat perpecahan, korupsi, dan nafsu kuasa di tubuh organisasi.
  • Gus Lilur menegaskan pemimpin NU terpilih harus mendukung kelanjutan pemerintahan Prabowo-Gibran untuk dua periode demi persatuan bangsa, menyatukan polarisasi yang ada.
  • Secara terbuka, ia mendukung Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar sebagai Ketua Umum PBNU dan Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam, karena kapasitas keilmuan dan reputasi mereka.
  • Muktamar ke-35 dinilai sebagai ujian sejarah bagi NU untuk kembali ke jalan ulama dan integritas, menghindari fenomena 'gus-gus nanggung' yang mempolitisasi organisasi.

Saat itu, para pemimpin Islam disebut rela mengesampingkan kepentingan kelompok demi menjaga persatuan bangsa yang baru merdeka. Menurutnya, keputusan tersebut merupakan wujud kenegarawanan yang patut menjadi teladan.

"Semangat Piagam Jakarta itu adalah cara berpikir seorang pemimpin Islam: memilih kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan diri dan golongannya. Semangat itulah yang harus hadir di bilik pemilihan muktamar," ujar Gus Lilur.

Sebagai implementasi dari pandangan tersebut, Gus Lilur menegaskan bahwa pemimpin NU yang terpilih dalam Muktamar ke-35 harus mendukung keberlanjutan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk dua periode.

Ia menilai kepemimpinan Prabowo-Gibran mampu menyatukan berbagai kelompok yang sebelumnya terpolarisasi dan berpotensi memicu perpecahan di tengah masyarakat.

"Kita sudah melihat jejaknya: polarisasi antara yang disebut cebong dan kampret, serta rivalitas antarinstitusi keamanan negara, yaitu TNI dan Polri. Prabowo dan Gibran menyatukan itu semua. Demi persatuan bangsa, pemimpin NU pun harus seseorang yang mendukung keberlanjutan itu," kata Gus Lilur.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, Gus Lilur secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar untuk menjadi Ketua Umum PBNU dan mendorong Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj mengisi posisi Rais Aam.

Menurutnya, kedua tokoh tersebut memiliki kapasitas keilmuan, pengalaman, dan reputasi yang mampu membawa NU semakin berpengaruh di tingkat nasional maupun internasional.

"Keduanya profesor asli, ulama tulen, cendekia sejati yang bisa mengharumkan NU di panggung global. NU ini kaya tokoh jangan sampai yang tampil justru yang itu-itu saja karena faktor politik," ujar Gus Lilur.

Ia juga mengkritik fenomena yang disebutnya sebagai "gus-gus nanggung", yakni figur yang memanfaatkan simbol kesantrian sebagai legitimasi tanpa didukung kapasitas keilmuan yang memadai serta menjadikan NU sebagai kendaraan politik.

Gus Lilur menegaskan bahwa Muktamar ke-35 merupakan ujian sejarah bagi organisasi, bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan rutin. Karena itu, ia berharap para kiai dan ulama peserta muktamar memilih pemimpin berdasarkan kapasitas keulamaan dan integritas.

"Ini bukan soal hari ini saja. Ini soal masa depan NU dan umat. Kita mau kembali ke jalan ulama, atau terus terseret arus kekuasaan itu yang sedang dipertaruhkan," pungkasnya.