“Sejak Indonesia merdeka sampai sekarang, tidak ada satu pikiran yang benar-benar otentik selain Marhaenisme yang ditemukan Bung Karno untuk memahami realitas bangsanya sendiri,” kata Rocky Gerung.
Rocky menilai bangsa Indonesia membutuhkan keberanian untuk kembali memperdebatkan ide dan arah masa depan di tengah berbagai tantangan ekonomi, sosial, dan politik yang terus berkembang.
Menurutnya, diskursus mengenai gagasan besar bangsa harus terus dihidupkan agar Indonesia tidak kehilangan arah dalam menghadapi perubahan zaman.
Sementara itu, Airlangga Pribadi menjelaskan buku tersebut lahir dari kegelisahan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi Generasi Z, mulai dari krisis lingkungan, kapitalisme digital, meritokrasi yang semakin kompetitif, hingga praktik korupsi yang berdampak secara global.
“Kita memiliki sumber pemikiran yang sangat kaya untuk menghadapi persoalan itu, yaitu cara berpikir Bung Karno melalui Marhaenisme,” ujarnya.
Airlangga menambahkan, salah satu keunggulan buku tersebut adalah penyajian konsep Marhaenisme dengan bahasa yang lebih dekat dengan kalangan muda.
Berbagai gagasan diuraikan melalui referensi budaya populer, seperti Kung Fu Panda, Avatar, hingga penafsiran ulang kisah Malin Kundang dari sudut pandang lingkungan dan keadilan sosial.
Ketua DPC PDIP Surabaya Armuji menilai generasi muda perlu memiliki fondasi pemikiran yang kuat agar tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi.
“Jangan sampai Gen Z hanya sibuk menjadi pengguna media sosial, tetapi kehilangan arah berpikir tentang masa depan bangsa. Pemikiran Bung Karno perlu terus diperkenalkan dengan cara yang dekat dengan generasi muda,” tegas pria yang akrab disapa Cak Ji tersebut.
Pada kesempatan itu, Cak Ji juga mengajak peserta dari kalangan Gen Z mengikuti sesi tanya jawab mengenai Marhaenisme.
Peserta yang mampu menjawab pertanyaan memperoleh bingkisan MBG (Membagikan Bingkisan Gratis) dari panitia, sedangkan peserta yang aktif mengajukan pertanyaan kepada narasumber mendapatkan buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z.
Untuk mendekatkan gagasan Marhaenisme kepada generasi muda, panitia juga menggelar lomba pembuatan konten digital bertema Marhaenisme dalam berbagai format kreatif yang akrab dengan Gen Z, mulai dari video pendek hingga konten media sosial.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa dan peserta mengenai isu ekonomi, lingkungan, politik, hingga masa depan Indonesia di tengah perubahan global yang semakin cepat.
Melalui forum tersebut, Marhaenisme tidak hanya dibahas sebagai warisan pemikiran Bung Karno, tetapi juga ditawarkan sebagai salah satu perspektif bagi Generasi Z dalam memahami sekaligus menjawab tantangan abad ke-21.










