Haul Bung Karno, PDIP Surabaya Ingatkan Gen Z soal Ancaman Desukarnoisasi di Media Sosial

SURABAYA,BANGSAONLINE.com -  PDI Perjuangan (PDIP) menyoroti maraknya narasi yang dinilai memutarbalikkan sejarah Bung Karno di media sosial saat peringatan Haul Bung Karno yang digelar di Kantor DPC PDIP Surabaya, Minggu (21/6/2026) malam.

Ribuan kader PDIP Surabaya dari tingkat PAC, ranting, anak ranting, hingga kader muda Generasi Z (Gen Z) menghadiri kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bung Karno 2026 tersebut.

Acara berlangsung khidmat dengan diawali doa yang dipimpin tokoh agama Islam, dilanjutkan tausiah, pemotongan tumpeng, refleksi perjuangan Bung Karno, dan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB).

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DPC PDIP Surabaya yang juga Wakil Wali Kota Surabaya Armuji, Wakil Sekretaris DPD PDIP Jawa Timur Yordan Batara Goa yang juga anggota DPRD Jatim, perwakilan DPP PDIP Seno Bagaskoro, kader senior PDIP Saleh Ismail Mukadar, serta jajaran pengurus partai.

Dalam sambutannya, Armuji menegaskan bahwa Haul Bung Karno tidak sekadar menjadi momen mengenang wafatnya sang Proklamator, tetapi juga momentum untuk mewarisi semangat perjuangan dan pemikirannya.

"Ini adalah rangkaian Bulan Bung Karno. Dimulai dari 1 Juni Hari Lahir Pancasila, 6 Juni Hari Lahir Bung Karno, dan 21 Juni hari wafatnya Bung Karno. Yang paling penting adalah bagaimana kita mewarisi api perjuangan beliau untuk Indonesia," kata pria yang akrab disapa Cak Ji itu.

Menurut Armuji, generasi muda perlu memahami sosok Bung Karno sebagai proklamator kemerdekaan sekaligus pejuang yang mengorbankan hidupnya demi Indonesia merdeka.

Ia menilai tantangan saat ini bukan lagi penjajahan secara fisik, melainkan derasnya arus informasi yang berpotensi mengaburkan fakta sejarah melalui berbagai platform digital.

Karena itu, Cak Ji mendorong kader muda PDIP, khususnya Gen Z, untuk aktif memproduksi konten positif dan meluruskan informasi yang dinilai tidak sesuai dengan fakta sejarah tentang Bung Karno.

"Anak-anak kader PDI Perjuangan, khususnya Gen Z, harus aktif di media sosial. Jangan sampai narasi yang memutarbalikkan sejarah terus berkembang tanpa ada yang meluruskan," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan perwakilan DPP PDIP, Seno Bagaskoro. Dalam pidatonya, ia menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai upaya desukarnoisasi yang dinilai semakin masif melalui berbagai platform digital.

Menurut Seno, sebagian generasi muda mulai mengenal Bung Karno bukan dari sumber sejarah yang utuh, melainkan dari potongan-potongan informasi yang beredar di media sosial.

"Di TikTok, Instagram, Facebook dan berbagai platform digital lainnya, ada upaya yang membuat anak-anak muda melihat Bung Karno dengan cara pandang yang salah. Ini harus menjadi perhatian kita bersama," katanya.

Seno menegaskan Surabaya memiliki tanggung jawab historis untuk menjaga dan merawat warisan pemikiran Bung Karno karena kota ini menjadi tempat lahir dan tumbuhnya sang Proklamator.

"Kalau ada perlawanan terhadap desukarnoisasi, maka Surabaya harus menjadi yang terdepan. Bung Karno lahir di kota ini, tumbuh di kota ini, dan membangun karakter perjuangannya dari kota ini," tegasnya.

Ia mengajak seluruh kader tidak hanya mengenang Bung Karno sebagai tokoh sejarah, tetapi juga mempelajari gagasan-gagasannya yang dinilai tetap relevan dalam menghadapi tantangan bangsa saat ini.

"Bung Karno bukan sekadar simbol, bukan sekadar peci atau baju. Bung Karno adalah spirit, gagasan, dan kepercayaan diri bangsa untuk menghadapi zaman," tambahnya.

Sementara itu, Wakil Sekretaris DPD PDIP Jawa Timur Yordan Batara Goa mengingatkan pentingnya kader memahami kembali ajaran Marhaenisme yang menjadi salah satu fondasi pemikiran Bung Karno.

Menurut Yordan, Marhaenisme merupakan pengejawantahan nilai-nilai Pancasila yang berpihak kepada rakyat kecil.

"Jangan hanya menyanyikan lagu perjuangan, tetapi juga memahami maknanya. Marhaenisme adalah ajaran Bung Karno yang berisi nasionalisme, demokrasi, keadilan sosial, dan ketuhanan yang berkebudayaan," ujarnya.

Yordan juga menekankan pentingnya kaderisasi berbasis teknologi dan media sosial agar nilai-nilai perjuangan partai dapat dipahami generasi muda secara lebih luas.

Dalam kesempatan yang sama, kader senior PDIP Saleh Ismail Mukadar menegaskan bahwa pemikiran Bung Karno masih relevan dan menjadi inspirasi bagi banyak negara di dunia.

Menurut mantan Ketua DPC PDIP Surabaya tersebut, gagasan Trisakti Bung Karno tentang kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian dalam kebudayaan tetap penting dijadikan pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan global.

"Pemikiran Bung Karno digunakan oleh berbagai negara di dunia. Karena itu pikiran-pikiran beliau harus terus kita hidupkan dan diwariskan kepada generasi penerus," kata Saleh.

Ia juga mengingatkan bahwa kekuatan partai tidak hanya ditentukan oleh organisasi, tetapi juga oleh kehadiran kader di tengah masyarakat.

"Kader harus menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Mengurus persoalan BPJS, administrasi kependudukan, membantu warga yang membutuhkan, dan menjadi mitra masyarakat dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari," ujarnya.

Menurut Saleh, kerja nyata dan kedekatan dengan masyarakat akan menjadi faktor penting dalam menghadapi dinamika politik ke depan.

Nuansa kebangsaan dan toleransi juga terasa sepanjang kegiatan berlangsung. Doa lintas agama yang dipimpin FKUB menjadi simbol penghormatan terhadap keberagaman sekaligus implementasi nilai Ketuhanan Yang Maha Esa sebagaimana termuat dalam Pancasila.

Kehadiran ratusan kader Gen Z dalam acara tersebut menjadi gambaran upaya regenerasi yang terus dilakukan partai. Para kader muda mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari doa bersama, refleksi perjuangan Bung Karno, hingga diskusi mengenai tantangan politik dan media sosial di era digital.

 


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: