KEDIRI,BANGSAONLINE.com - Sejumlah juru pelihara (Jupel) kawasan cagar budaya se-Kabupaten Kediri menggelar ritual Merti Cagar Budaya dengan melakukan jamasan Arca Totok Kerot di Dusun Kunir, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kamis (9/7/2026), bertepatan dengan bulan Suro dalam penanggalan Jawa.
Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan ritual yang pada 2026 memasuki tahun kedua.
Sebelum prosesi jamasan dimulai, kegiatan diawali dengan doa bersama, tumpengan, serta pagelaran jaranan di pelataran Arca Totok Kerot.
Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Eko Priatno, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda rutin kedinasan.
Menurutnya, ritual itu lahir dari kepedulian para juru pelihara cagar budaya di Kabupaten Kediri.
"Alhamdulillah, hari ini kita mengadakan kegiatan Merti Cagar Budaya, berupa jamasan Arca Totok Kerot. Ini adalah bentuk inisiatif mandiri yang luar biasa dari teman-teman juru pelihara cagar budaya di Kabupaten Kediri," ujar Eko Priatno saat ditemui di lokasi kegiatan.
Eko menjelaskan, gerakan mandiri tersebut menjadi bukti bahwa kesadaran masyarakat dalam menjaga warisan budaya leluhur di Kediri telah tumbuh dengan kuat.
"Kemarin sudah saya laporkan ke Pak Kepala Dinas, dan beliau sangat mendukung penuh. Mengapa? Karena kegiatan jamasan ini sifatnya benar-benar mandiri. Teman-teman juru pelihara tergerak sendiri untuk melakukannya," tambah Eko.
Eko menjelaskan, Merti Cagar Budaya pada hakikatnya bermakna merawat dan memelihara warisan budaya.
Melalui momentum bulan Suro yang disakralkan dalam penanggalan Jawa, jamasan dilakukan dengan membersihkan, menyikat, dan merawat fisik arca agar tetap lestari sepanjang zaman.
Prosesi jamasan juga terbuka bagi masyarakat umum dan wisatawan yang berkunjung.
Pengunjung, termasuk peneliti asing seperti Saki, turut diajak berpartisipasi secara langsung dalam kegiatan tersebut.
"Semuanya bisa terlibat. Bahkan masyarakat atau pengunjung yang sedang menonton pun kami perbolehkan ikut bahu-membahu membersihkan cagar budaya ini," ungkap Eko Priatno.
Menurut Eko, jamasan pada bulan Suro bukan hanya kegiatan membersihkan benda cagar budaya.
Tradisi tersebut juga menjadi ruang refleksi spiritual sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memanjatkan doa untuk menyambut tahun baru Jawa.
"Momentum bulan Suro ini sekaligus menjadi wujud rasa syukur kita menyambut datangnya tahun baru, Tahun Jawa 1960 Be. Kami memohon keselamatan, mudah-mudahan di tahun yang baru ini kita semua senantiasa diberikan kelancaran dan keselamatan dalam setiap langkah ke depan," pungkas Eko.
Ritual yang digelar di Arca Totok Kerot juga menarik perhatian kalangan akademisi internasional.
Salah satunya ialah Saki Maeta (26), mahasiswa program doktor (S3) Antropologi dari Kobe University, Jepang, yang tengah melakukan penelitian di Indonesia.
Kehadiran Saki menjadi perhatian tersendiri di kawasan situs tersebut.
Ia tampak antusias mengamati setiap rangkaian ritual budaya yang berlangsung.
Panitia juga mempersilakan Saki ikut menyiramkan air ke Arca Totok Kerot sebagai bagian dari prosesi jamasan.
Saat dimintai tanggapan mengenai pelestarian situs sejarah di Kediri, Saki menyampaikan apresiasinya.
Sebagai peneliti antropologi budaya, Saki menilai keberlangsungan tradisi sangat bergantung pada peran generasi masa kini.
Menurutnya, situs sejarah akan semakin hidup apabila masyarakat aktif mempelajari nilai sejarah serta cerita yang melekat di dalamnya.
"Saya sangat tertarik dengan budaya Indonesia, terutama budaya Jawa. Kebetulan di Kediri sedang ada event tahunan seperti ini, saya ingin datang. Saya tahu acara ini dari Instagram," kata Saki dengan bahasa Indonesia yang fasih. (uji/van)










