Benarkah Kebiasaan Begadang Bikin Lemak Bertambah? Ini Penjelasan Ahli

SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Kebiasaan begadang atau night owl tidak hanya memengaruhi pola tidur, tetapi juga berkaitan dengan pola makan, penumpukan lemak tubuh, hingga meningkatnya risiko gangguan metabolik, berdasarkan hasil penelitian terbaru.

Dikutip dari Medical News Today, Rabu (22/7/2026), temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Frontiers.

Penelitian melibatkan 287 perempuan berusia 18-45 tahun di Selandia Baru untuk mengkaji hubungan antara chronotype, yakni kecenderungan waktu seseorang tidur dan bangun, dengan pola makan, komposisi tubuh, serta sejumlah indikator kesehatan metabolik.

Hasil penelitian menunjukkan perempuan yang termasuk kelompok night owl cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan pada malam hari, memiliki persentase lemak tubuh lebih tinggi, serta berisiko lebih besar mengalami obesitas dibandingkan mereka yang terbiasa tidur lebih awal.

Dalam penelitian tersebut, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu tipe pagi (morning type), tipe malam (evening type atau night owl), dan tipe menengah (intermediate).

Kelompok tipe pagi dan menengah kemudian dianalisis secara bersama untuk dibandingkan dengan kelompok night owl.

Hasil analisis menunjukkan kelompok yang aktif hingga malam hari memiliki indeks massa tubuh (body mass index/BMI), lingkar pinggang, lingkar pinggul, persentase lemak viseral, serta lemak di bagian tubuh atas (android fat) yang lebih tinggi.

Peneliti juga menemukan kelompok night owl memperoleh asupan energi lebih besar pada malam hingga larut malam.

Mereka mengonsumsi lebih banyak karbohidrat, lemak, dan protein pada waktu tersebut dibandingkan kelompok yang terbiasa bangun pagi.

Sebaliknya, kelompok tipe pagi dan menengah lebih banyak mengonsumsi makanan pada waktu yang lebih awal. Perbedaan waktu makan tersebut diduga turut memengaruhi distribusi lemak tubuh dan kondisi kesehatan metabolik.

Selain berkaitan dengan komposisi tubuh, penelitian ini juga menemukan kelompok night owl memiliki sejumlah indikator metabolik yang kurang baik.

Peserta yang aktif hingga malam hari tercatat memiliki kadar gula darah dan trigliserida lebih tinggi.

Peneliti juga menemukan bahwa semakin larut waktu tidur seseorang, semakin tinggi pula kadar insulin dan hemoglobin A1C (HbA1c), yakni penanda yang umum digunakan untuk menilai risiko pradiabetes maupun diabetes tipe 2.

Menurut ahli endokrin dari Department of Internal Medicine UTMB, Sura Alqaisi, waktu makan memiliki peran penting selain jumlah kalori yang dikonsumsi.

"Temuan bahwa individu dengan kronotipe malam juga memiliki kadar trigliserida, insulin, HbA1c, dan leptin yang lebih tinggi, serta kadar kolesterol HDL yang lebih rendah, semakin memperkuat hubungan tersebut,” kata dia.

Sementara itu, dokter spesialis psikiatri dan pengobatan tidur Alex Dimitriu menilai hasil penelitian tersebut menguatkan temuan yang selama ini telah banyak diamati.

“Orang yang terbiasa aktif hingga larut malam cenderung mengonsumsi makanan yang kurang sehat setelah matahari terbenam, memiliki waktu puasa malam yang lebih singkat, serta memiliki indeks massa tubuh (BMI) dan persentase lemak tubuh yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidur lebih awal,” ungkap Dimitriu.

Penelitian ini juga menemukan kelompok night owl cenderung mengonsumsi lebih sedikit mikronutrien, yang mengindikasikan asupan buah dan sayur kemungkinan lebih rendah.

Meski menunjukkan hubungan yang konsisten, peneliti menegaskan studi ini bersifat observasional sehingga belum dapat membuktikan bahwa kebiasaan aktif hingga malam hari secara langsung menjadi penyebab kenaikan berat badan maupun obesitas.

Penelitian tersebut juga hanya melibatkan perempuan dari kelompok etnis tertentu di Selandia Baru sehingga hasilnya belum tentu dapat diterapkan pada seluruh populasi.

Selain itu, sebagian besar data mengenai pola makan diperoleh berdasarkan laporan peserta sehingga masih terdapat kemungkinan terjadinya bias pelaporan.