Ringkasan Berita
- Menko Polkam Djamari Chaniago menegaskan pemasangan pagar tinggi di mal bukan antisipasi gelombang massa atau demo. Ia menyatakan itu murni kebijakan keamanan internal pengelola pusat perbelanjaan.
- Pagar yang sempat terpasang di sejumlah mal telah dibongkar. Pembongkaran dilakukan setelah pemerintah daerah setempat melakukan penertiban karena dianggap tidak memenuhi izin.
- Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menduga tindakan itu adalah langkah antisipasi keamanan oleh pengelola. Ia menyebut hal itu kemungkinan bentuk kehati-hatian menghadapi situasi yang berkembang meski belum berkomunikasi langsung dengan pemilik mal.
- Pernyataan resmi pemerintah bertolak belakang dengan dugaan asosiasi pengusaha. Pemerintah menyangkal kaitan dengan unjuk rasa, sementara asosiasi melihatnya sebagai langkah pencegahan atas kondisi keamanan.
JAKARTA,BANGSAONLINE.com - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menegaskan pemasangan pagar tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan tidak berkaitan dengan antisipasi gelombang massa maupun aksi demonstrasi.
Djamari mengatakan, pemasangan pagar tersebut semata-mata merupakan kebijakan pengelola pusat perbelanjaan dengan pertimbangan keamanan.
"Tidak ada kaitannya dengan hubungan seperti yang digulirkan kabar-kabar yang akan datang, tidak ada,” kata Djamari saat ditemui di Kemenko Polkam, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan, pagar yang sempat dipasang di sejumlah mal kini telah dibongkar. Pembongkaran dilakukan setelah adanya penertiban sesuai arahan pemerintah daerah.
"Sudah dianggap tidak memenuhi izin seperti yang dilakukan oleh beberapa tempat. Saya tidak mau menyebutkan mal yang mana ya, tapi kira-kira pemerintah daerah setempat sudah melakukan penertiban itu,” pungkasnya.
Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menduga pemasangan pagar tinggi dilakukan sebagai langkah antisipasi keamanan oleh pengelola pusat perbelanjaan.
Meski belum berkomunikasi langsung dengan pemilik mal, Shinta menilai kebijakan tersebut kemungkinan diambil sebagai bentuk kehati-hatian dalam menghadapi situasi yang berkembang.
"Ini kan mungkin melihat kondisi yang ada ya, mereka mungkin ya supaya berhati-hati saja gitu. Saya terus terang belum bicara sama pemilik. Jadi mungkin ada alasan-alasan lebih alasan keamanan saja gitu," ujar Shinta di Istana, Jakarta, Jumat (31/7/2026).










